Cerek untuk Angkringan Dibikin di Sini

Pengrajin mematri cerek stainless steel di teras rumahnya Dukuh Jetis, Desa Jambukidul, Kecamatan Ceper, Selasa (21/8/2018).(Solopos - Cahyadi Kurniawan)
23 Agustus 2018 21:45 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Suara bunyi logam ditempa terdengar hampir di setiap rumah saat Solopos.com berjalan di jalanan yang membelah Dukuh Jetis, Desa Jambukidul, Ceper, Klaten. Warga sedang membikin aneka kerajinan logam seperti dandang, panci, cerek, hingga ember dari bahan seng.

Di depan rumah dan bengkel mereka, berbagai produk jadi dari bahan stainless steel dipajang. Barang-barang itu biasanya diambil pembeli dari Jogja, Soloraya, atau dikirimkan oleh pengrajin hingga ke Kudus dan Pati. Produk yang populer dandang untuk bakso dan mi ayam. Cerek yang lazim dipakai di angkringan juga menjadi salah satu produk yang laris manis diburu pemilik toko.

Kami menjualnya ke pemilik toko. Sekarang ini pesanan terus bertambah kami bahkan bisa disebut kerepotan memenuhinya,” kata pemilik Bintang Steel, Andi Subekti, saat ditemui Espos di rumahnya, Dukuh Jetis, Desa Jambukidul, Kecamatan Ceper, Klaten, Selasa (21/8/2018).

Kerepotan memenuhi pesanan salah satunya dipicu oleh sulitnya mendapatkan tenaga kerja. Ada sepuluh pengrajin yang bekerja di bengkelnya rata-rata berusia tua. Sisanya, bekas pengrajin di bengkelnya biasanya keluar lalu mendirikan usaha sendiri. Ia menilai hal itu bukan menjadi pesaing usahanya melainkan mitra.

Kalau ada pesanan berlebih, saya minta tolong kepada pengrajin sekitar untuk mengerjakannya. Bahan dari saya, saya tinggal ambil produk jadi,” imbuh pria yang menekuni usaha pengolahan logam sejak 25 tahun lalu itu.

Menurut Andi, animo tenaga kerja muda bekerja di usaha produksi alat-alat rumah tangga cenderung rendah. Lulusan SMK/SMA lebih menyukai bekerja di pabrik ketimbang menjadi pengrajin dandang atau cerek. Padahal, dari segi pendapatan, mereka bisa mendulang jumlah yang sama.

Keuntunganya dekat dengan rumah, jam kerja bebas. Sehari mereka bisa mengantongi hingga Rp100.000. Soal keterampilan, kami bisa melatih terlebih dahulu. Kami juga punya peralatan kerja lengkap,” beber Andi.

Peluang usaha pengolahan logam masih terbuka lebar. Andi menceritakan dari seorang pengrajinnya bisa membikin delapan buah dandang setiap hari. Dandang itu dikirim ke Pati, Kudus, Jogja, dan Soloraya. “Di sini banyak pengrajin. Biasanya mereka punya pangsa masing-masing,” kata Andi.

Pengrajin lain, Joko Triyanto, mengungkapkan hal senada. Di teras rumahnya, ia sedang mematri cerek bikinannya agar tak bocor. Cerek-cerek itu kebanyakan dipasarkan ke Jogja dipakai untuk merebus air di angkringan. Dalam sepekan, ia bisa memproduksi 40 buah cerek. Cerek itu dijual kepada tengkulak atau toko penjual alat-alat rumah tangga seharga Rp45.000 untuk ukuran kecil dan Rp55.000 untuk ukuran besar. “Sebagian cerek juga dijual ke Pasar Kabangan di Solo,” kata pria yang menekuni usahanya selama 15 tahun itu.

Joko menjelaskan banyak pemuda di wilayahnya lebih suka bekerja ke pabrik ketimbang menekuni usaha kerajinan logam. Usaha kerajinan logam biasanya menjadi usaha turun temurun oleh keluarga. Hal itu juga terjadi padanya yang mewarisi usaha orang tuanya sebagai pengrajin ember seng.

Dulunya saya bikin ember seng. Tapi sekarang ember seng kalah dengan ember plastik. Lalu, saya melihat kalau bikin cerek stainless steel lebih menguntungkan. Saya beralih bikin cerek sekarang,” ujar pria berusia 35 tahun.

Pengrajin lain, Sinung Hari Wibowo, berharap pemerintah bisa ikut mempromosikan produk-produk kerajinan asal Jambukidul. Salah satu caranya melalui pameran. Selama ini pengrajin tak pernah diajak pameran untuk mengenalkan produk asal Klaten itu. “Kami enggak pernah diajak pameran. Kalau ada pameran, produk ini bisa lebih populer,” harap Sinung.