Kampung Batik Kauman Solo Bikin Ruang Pamer Lagi, Apa Saja isinya?

Dua Duta Batik Kauman berada di Showroom Bersama di Kauman, Solo, Jumat (24/8/2018). (Solopos - Bayu Jatmiko Adi)
24 Agustus 2018 21:40 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman (PKWBK) kembali membuka ruang pamer atau showroom bersama batik Kauman, Solo, Jumat (24/8/2018). Keberadaan showroom bersama diharapkan bisa menjadi solusi pengembangan batik di kampung tersebut.

Ketua PKWBK, Gunawan Setiawan, mengatakan keberadaan showroom bersama kedua tersebut adalah untuk menyempurnakan keberadaan ruang pamer bersama pertama yang telah didirikan sekitar tiga tahun lalu.

"Ini menyempurnakan showroom yang pertama. Showroom yang pertama hasilnya bagus, untuk itu kami berani buka yang kedua. Namun untuk yang pertama kecenderungan banyak batik klasik. Sedangkan yang kedua ini lebih banyak ke kontemporer," kata dia saat ditemui Solopos.com, Jumat.

Menurutnya keberadaan showroom bersama diharapkan mampu menjadi solusi bagi pelaku batik di wilayah Kauman. Menurutnya ada beberapa persoalan yang selama ini dihadapi pelaku usaha batik di Kauman.

"Ada yang punya produk tapi tidak bisa jual karena mungkin alasan kesibukan profesi di luar membatik. Ada yang menjadi guru, dosen dan sebagainya. Ada yang punya produk tapi lokasinya masuk. Ada yang punya produk dan lokasi bagus, tapi manajemennya kurang optimal. ada juga yang sudah memiliki showroom namun jenis produknya terbatas," kata dia.

Showroom bersama disiapkan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Pada ruang pamer tersebut dijual produk batik dari beebrapa pelaku usaha batik di Kauman anggota PKWBK. Gunawan menyebutkan ada 20 pelaku usaha batik yang terlibat di showroom bersama kedua. Sedangkan di showroom bersama pertama ada 11 pelaku usaha batik. Dia mengatakan untuk bisa memasukkan produk ke showroom bersama tersebut harus menjadi anggota paguyuban. Selain itu semua transaksi diarahkan melalui koperasi Serikat Dagang Kauman.

Produk yang dijual beragam mulai pakaian santai, resmi hingga kain batik dengan harga mulai Rp50.000 per potong. Di ruang pamer pertama juga dilengkapi dengan pengelolaan pemasaran secara online. Dengan menyasar pasar online dia berharap bisa mengikuti tren pasar yang saat ini terus berkembang. Dia mengatakan penjualan produk secara online saat ini telah menjadi hantu di bidang pemasaran batik.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Solo, Agus Sutrisno, mengapresiasi adanya showroom bersama tersebut. Dia juga mengatakan saat ini pemerintah telah memiliki aplikasi khusus untuk membantu pelaku industri kecil menengah (IKM) untuk memasarkan produknya secara online melalu industry promotion center (IPC).