Kendala Ini Hambat Pengembangan Wonosemar Jadi Wisata Unggulan Boyolali

Kondisi Hutan Konservasi Wonosemar di Desa Pentur, Simo, Boyolali, Jumat (24/8 - 2018) siang. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
25 Agustus 2018 15:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Desa Pentur di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, diproyeksikan menjadi desa wisata di Kabupaten Susu. Konsep yang bakal diusung merupakan wisata berbasis budaya dengan hutan Wonosemar sebagai salah satu destinasi unggulan.

Wonosemar direncanakan menjadi hutan yang menyimpan berbagai tanaman langka.

Pantauan solopos.com, Jumat (24/8/2018) siang, Hutan Wonosemar terlihat tidak terawat. Daun-daun kering berserakan sementara tulisan Wonosemar dengan logo Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo penyok di tanah. Pohon-pohon yang tersisa meranggas karena suhu udara panas.

Kepala Desa Pentur, Wiryawan, mengatakan awal tahun ini Pemkab Boyolali bersama tim UNS telah memaparkan ulang konsep Wonosemar. Wonosemar akan dibangun sebagai objek wisata berkonsep taman. Taman bakal dilengkapi gazebo.

Hutan di dua bukit itu akan dikelilingi cekungan yang tampak seperti danau jika dialiri air. Tak ketinggalan kereta wisata sebagai tunggangan mengelilingi kedua bukit itu dan tempat makan di ketinggian. “Wah itu kalau jadi mungkin menjadi yang paling bagus di Boyolali,” kata dia di ruang kerjanya, Jumat.

Wiryawan menambahkan proyek Wonosemar akan melibatkan sepuluh dinas, di antaranya Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Lingkungan Hidup. Para petani yang menggarap tegalan di lingkungan Wonosemar seluas 9,7 hektare juga telah dimintai usulan. Mereka menyampaikan pembangunan jembatan yang menghubungkan kedua bukit itu.

Di bulan Mei, rapat mengenai anggaran telah dilaksanakan. “Namun belum ada detail, rencananya kami ingin gandeng pihak swasta untuk menutupi besarnya anggaran,” kata dia.

Namun Wiryawan belum dapat memastikan kapan proyek Wonosemar akan kembali digarap. “Semuanya masih angan-angan,” tutur dia.

Proyek Wonosemar, ungkap Wiryawan, dimulai sejak 1990-an. Saat itu, Pemkab Boyolali bersama UNS mereboisasi hutan gundul di Pentur. Penamaan Wonosemar pun diambil dari kata wono yang dalam bahasa Jawa berarti hutan, dan semar yang menjadi akronim Universitas Sebelas Maret.

Keberhasilan menghidupkan kembali hutan membuat Wonosemar digarap kembali di awal 2000-an lewat dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Pariwisata. Warga setempat membuat penginapan di sekitar Wonosemar yang diharapkan mampu mendatangkan keuntungan ekonomi. Apalagi hutan konservasi itu dikonsep sebagai hutan untuk tanaman langka.

Namun sejak dana PNPM Pariwisata dihentikan, usaha warga itu pun macet. Hutan mulai tidak terawat, dan tanaman langka berangsur-angsur mati. Pemerintah Desa bahkan belum sempat menginventarisasi jenis-jenis tanaman langka itu.

“Dulu sempat ada pendataan soal jenis tanaman dan nama ilmiahnya yang ditulis di kertas tapi kertas-kertas itu hilang,” kata Wiryawan.

Wiryawan mengakui masyarakat Pentur tidak kooperatif dengan tumbuhan langka. Sebabnya, tumbuhan-tumbuhan itu tidak mendatangkan profit bagi mereka.

“Masyarakat akan memilih tumbuhan yang bernilai ekonomi, jati misalnya,” kata dia. Selain itu, faktor musim tanam yang tidak tepat membuat tumbuhan banyak yang tidak hidup.

Meski demikian Wiryawan berharap konsep Desa Wisata segera direalisasikan di Pentur. “Kalau jalan Alhamdulillah, bisa meningkatkan ekonomi warga,” kata dia.

Diwawancarai terpisah, Camat Simo, Hanung Mahendra, mengatakan berdasarkan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kecamatan Simo dikonsep sebagai lokasi pendidikan dan pariwisata di Boyolali.

Pentur akan menjadi salah satu destinasi unggulan Kecamatan Simo. “Lagipula di Simo tidak boleh ada pabrik, jadi kami mengandalkan pariwisata,” kata dia.      

Tokopedia