Pehobi Burung dari Berbagai Pulau Berlomba di Klaten

Juri menilai burung yang digantang saat digelar lomba burung berkicau di halaman Pendopo Pemkab Klaten, Minggu (26/8/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
26 Agustus 2018 20:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Para pehobi burung berkicau dari berbagai wilayah mengikuti lomba burung memperebutkan Piala Bupati Klaten di halaman Pendopo Pemkab Klaten, Minggu (26/8/2018). Tak hanya berasal dari Pulau Jawa, para peserta berasal dari berbagai pulau di Indonesia seperti Kalimantan, Sumatra, dan Bali.

Ketua panitia, Edy Hartanto, mengatakan ada 34 kelas lomba tersebut. Jenis burung berkicau yang dilombakan di antaranya branjangan, kenari, love bird, murai batu, serta pleci.

Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan HUT Kabupaten Klaten dan HUT Kemerdekaan Indonesia. Mudah-mudahan menjadi agenda rutin di Klaten,” kata Edy saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Disinggung keluarnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa, Edy mengatakan tak memengaruhi antusiasme peserta lomba.

Seperti diketahui, ada beberapa jenis burung yang masuk kategori dilindungi dalam Permen LHK tersebut di antaranya jalak suren, murai batu, serta cucak rawa. Permen LHK itu diprotes penangkar dan pehobi burung lantaran dikhawatirkan mematikan usaha mereka. Konsekuensi status satwa dilindungi yakni kepemilikan, pemeliharaan, dan jual beli harus disertai izin.

Tidak ada pengaruh termasuk jenis kelas yang dilombakan. Sesuai target kami, jumlah peserta ada 1.000 orang. Informasi terakhir yang kami terima ada peserta yang dari Samarinda, Bali, serta Sumatra,” jelas Edy.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, berharap lomba itu bisa mendukung pembangunan di Klaten. Terkait protes penangkar dan penghobi burung di Klaten yang meminta Pemkab memfasilitasi pengiriman aspirasi mereka ke pemerintah pusat, Mulyani mengatakan masih dalam pembahasan dengan DPRD.

Ya yang jelas taat dengan aturan yang ada. Tetapi, apa pun itu namanya karena urusannya dengan perut masyarakat banyak, kami fasilitasi apa yang dikeluhkan. Tentunya kami tampung dan kami kirimkan ke pemerintah pusat,” katanya.

Di sisi lain, lomba burung berkicau menjadi ajang menaikkan nilai tawar burung peliharaan para peserta lomba. Seperti salah satu love bird milik Bagas WMP yang selama ini dirawat Vian, 23. Burung berusia 2,5 tahun tersebut kerap memenangi ajang lomba burung berkicau seperti di Jakarta serta Tangerang. Saat mengikuti lomba burung di halaman pendopo, burung bernama Satriyo itu menjuarai kelas Love bird Bursa Rp50 juta.

Vian mengatakan sudah banyak pehobi burung yang menawar love bird tersebut. Kali terakhir, ada yang menawar hingga Rp150 juta. ”Hari ini ada juga yang menawar lebih dari Rp150 juta. Tetapi, belum dilepas karena masih senang,” kata pria asal Kecamatan Cawas tersebut.

Tokopedia