Di Klaten, 15.000 Tahu Bakso Dikirab lalu Diperebutkan Warga

Warga mengarak gunungan tahu bakso di Desa Jetis, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, Minggu (26/8/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
26 Agustus 2018 20:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Diawali pemotongan pita oleh Ketua DPRD Klaten, Agus Riyanto, di lapangan tengah perkampungan Dukuh Bendan, Desa Jetis, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, Minggu (26/8/2018) sekitar pukul 08.30 WIB, kirab tahu bakso pun dimulai.

Warga yang berdatangan sejak pukul 06.30 WIB berduyun-duyun mengawal kirab mengusung 15 gunungan yang terbuat dari susunan tahu bakso melewati jalan kampung hingga jalan raya Jogja-Solo sebelum kembali ke lapangan.

Belasan gunungan itu beraneka bentuk mulai replika kapal hingga kambing. Seluruh gunungan berisi tahu bakso yang dihiasi sayuran seperti sawi, kacang panjang, tomat, dan cabai. Sebanyak 5.000 gelas bubur menyambut para peserta kirab. Sembari menikmati makanan khas yang biasa tersaji saban memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia, warga melepas lelah seraya mengikuti rangkaian acara berupa sambutan dan penandatanganan prasasti oleh Bupati Klaten.

Setelah itu tibalah saat yang dinanti. Warga dipersilakan “menyerbu” gunungan. Lebih kurang 15.000 potong tahu bakso yang menghiasi belasan gunungan diperebutkan warga. Salah satu yang disasar adalah satu gunungan terbesar berbentuk replika kapal. “Isinya lebih dari 100 potong tahu bakso sumbangan dari pengusaha dan warga. Selama kirab total ada 30 orang yang mengusungnya secara bergantian,” kata Bakdi, 62, salah satu pengusung gunungan terbesar asal RT 001/RW 001, Dukuh Mranggen, Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan tersebut.

Kirab gunungan tahu bakso kali kedua digelar muda-mudi One Plus berisi warga Desa Jetis dan Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan guna memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan Indonesia. Kirab juga dimaksudkan untuk menegaskan kembali jika dua desa yang saling berbatasan tersebut merupakan sentra produksi tahu bakso di Klaten.

Ketua panitia, Anggun Nasir Tsalasah, mengatakan tahu bakso yang menghiasi gunungan merupakan sumbangan dari para perajin tahu bakso di Jetis dan Trunuh. Masing-masing perajin minimal menyumbang 20 tahu bakso. “Total bahan yang digunakan yakni daging minimal tiga kuintal, tepung enam kuintal, dan 15.000 potong tahu,” tutur dia.

Anggun menjelaskan jumlah pengrajin tahu bakso di Jetis dan Trunuh lebih dari 100 orang dengan skala usaha industri rumah tangga. Tak hanya Klaten, tahu bakso bikinan warga dua desa itu dipasarkan hingga ke Jogja, Solo, dan sekitarnya.

Pengrajin tahu bakso bermunculan di dua desa itu sejak 1990an, dirintis salah satu warga bernama Mardi Sidek yang kini disebut sebagai maestro tahu bakso oleh warga setempat. “Awalnya Pak Mardi hanya iseng, ada bakso kemudian dimasukkan dalam tahu dan dikukus. Jadilah tahu bakso. Dari situ, warga mulai mengikuti membuka usaha,” tutur Anggun.

Anggun menjelaskan dari kirab tersebut Jetis dan Trunuh semakin dikenal sebagai kampung tahu bakso. Pada pergelaran kirab selanjutnya, warga berencana mencatatkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) dengan membikin satu gunungan setinggi 10 meter berisi 215.000 tahu bakso di Alun-alun Klaten.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengapresiasi kirab tersebut yang bisa menjadi tradisi serta ikon di Klaten. “Seperti yang disampaikan pada 2019 berencana meraih rekor MURI di Alun-alun Klaten. saya menyambut gembira dan tentu kami siap mendukung pendanaan. Saya berharap itu semua dipersiapkan sebaik-baiknya biar tidak ngisin-isini,” katanya.

Tokopedia