Kecewa, Transmigran Solo di Takalar Minta Dipulangkan

Suasana rumah dan pekarangan yang ditempati peserta program transmigrasi asal Solo di Pulai Tanakeke , Kabupaten Takalar, Sulsel, beberapa waktu lalu. (Istimewa)
27 Agustus 2018 22:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah peserta program transmigrasi asal Solo yang dikirim ke Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada 2016 lalu minta dipulangkan.

Hal itu karena mereka tak kunjung mendapat kepastian terkait perolehan lahan untuk mereka kelola dari Pemkab Takalar. Seorang peserta program transmigrasi, Ayu Nur Wahyuni, 37, memohon kepada Pemkot Solo agar keluarganya dipulangkan saja dari Takalar.

Dia ingin dibantu supaya bisa menjadi warga Solo lagi. Ayu bercerita surat keputusan (SK) penempatan warga Solo di Pulau Tanakeke belum lama ini akhirnya diterbitkan oleh Bupati Takalar. Namun, peserta program transmigrasi belum juga diberi kepastian dokumen terkait perolehan lahan yang akan dikelola di Takalar.

"Kami minta dipulangkan saja dari Takalar. SK penempatan sebenarnya telah terbit belum lama ini. Tapi SK itu kan hanya identitas saja bahwa kami telah diakui sebagai warga transmigrasi di Sulsel. Sedangkan hak-hak kami terkait lahan bagaimana? Belum ada kepastiannya," kata Ayu saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (26/8/2018).

Ayu kini masih berada di Solo. Dia berencana kembali mendatangi Balai Kota Solo untuk menemui Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, pada Senin (27/8/2018). Ayu ingin menyampaikan permohonan kepada Wali Kota supaya dipulangkan saja dari Takalar.

Ayu juga ingin meminta bantuan kepada Wali Kota agar diberikan uang transport kembali ke Takalar. Dia perlu kembali ke Sulsel mengingat barang-barangnya masih di sana.

Ayu pergi ke Solo pada 20 Juni lalu hanya membawa barang seperlunya. Dia ke Solo untuk mengadu terkait kejanggalan pelaksanaan program transmigrasi di Takalar.

"Kalau bisa saya mohon dibantu Pak Wali buat transport ke Takalar. Setelah itu saya akan kembali ke Solo karena di sana kami belum jelas akan diberikan lahan atau tidak. Sampai sekarang legalitas lahan untuk peserta program transmigrasi belum dibagikan. Padahal awalnya kami dijanjikan lahan usaha I seluas 0,5 ha, lahan usaha II seluas 0,5 ha, dan lahan pekarangan," jelas Ayu.

Peserta program transmigrasi lainnya, Edi Sugianto, juga minta dipulangkan saja dari Takalar. Dia ingin kembali menjadi warga Kota Bengawan.

Edi menyebut sudah jelas tidak akan mudah kembali memulai hidup di Solo. Namun, dia memilih menerima risiko itu ketimbang hidup merana di Takalar.

Para peserta program transmigrasi asal Solo di Takalar selama ini hidup serasa digantung. Para transmigran sempat tak diakui keberadaannya karena Pemkab Takalar tak juga mengeluarkan SK penempatan. Kini SK penempatan sudah terbit, namun tak kunjung ada kepastian perolehan lahan.

"Maunya saya dan teman-teman sekarang dipulangkan saja ke Solo. Jadi bulan ini atau bulan depan kami berencana balik dulu ke Takalar sambil menunggu Pemkot memulangkan kami ke Solo," jelas Edi.