Masyarakat Desa di Sukoharjo Ini Bisa Bayar Utang Pakai Sampah

Pengurus bank sampah di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah, memperlihatkan sampah nonorganik berupa botol bekas dan plastik, Jumat (24/8 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
27 Agustus 2018 17:05 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sampah acapkali dianggap sebagai barang tak berguna yang mengotori lingkungan. Padahal jika dikelola dengan baik, sampah baik organik maupun nonorganik bisa menghasilkan rupiah.

Sampah nonorganik bisa didaur ulang yang memberikan keuntungan berupa penghasilan setiap bulan. Sementara sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan pupuk kompos.

Saat ini, banyak bermunculan bank sampah di rukun tetangga (RT), rukun warga (RW) maupun desa. Salah satu bank sampah yang dikelola warga setempat terletak di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pengelolaan bank sampah dirintis komunitas masyarakat pecinta lingkungan di desa setempat.

“Kami ingin mengoptimalkan sampah rumah tangga baik organik maupun nonorganik. Jika sampah dikelola secara maksimal warga bisa mendapat penghasilan setiap bulan,” kata seorang pengelola bank sampah di Desa Gentan, Bendosari, Taufik Imam Rohadi, saat berbincang dengan solopos.com, Jumat (24/8/2018).

Pengelolaan bank sampah dilakukan dengan menerapkan konsep kredit sampah bagi warga atau nasabah. Mereka bisa meminjam uang tanpa bunga dari bank sampah. Nominal pinjaman uang yakni dua kali lipat dari jumlah deposit milik setiap nasabah.

Menariknya, para nasabah membayar utang bukan menyerahkan uang tunai melainkan menyetorkan sampah rumah tangga ke bank sampah secara berkala.

Misalnya, nasabah A mempunyai deposit Rp100.000. Dia bisa meminjam uang ke bank sampah dua kali lipat jumlah deposit yakni Rp200.000. Nantinya, nasabah A hanya perlu menyetor sampah ke bank sampah untuk membayar utangnya.

“Pengelolaan bank sampah telah berjalan selama lebih dari setahun. Jumlah nasabah bank sampah lebih dari 50 orang,” ujar dia.

Taufik menjelaskan mekanisme pengelolaan sampah organik dan nonorganik di bank sampah. Sampah nonorganik seperti botol bekas air kemasan, kertas dan sampah plastik bernilai ekonomis cukup tinggi. Sampah nonorganik dimasukkan ke dalam mesin pencacah yang menghasilkan plastik atom. Plastik atom itu dijual ke sejumlah pabrik plastik di Kabupaten Jamu.

Sementara sampah organik seperti daun dan kotoran hewan ternak dimasukkan ke lubang tanah dan ditutup rapat selama beberapa bulan. “Sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Bisa digunakan untuk menyuburkan tanah pekarangan milik warga,” papar dia.

Salah seorang warga Gentan, Wahyudi, mengatakan warga setempat merespons positif pendirian bank sampah. Mereka menyetorkan sampah organik maupun nonorganik ke bank sampah secara rutin.

Dahulu, kondisi lingkungan rumah dan jalan perdesaan terkesan kotor lantaran sampah yang dibuang sembarangan. Kini, kondisi lingkungan rumah penduduk bersih dan rapi.

Tokopedia