Jadul, di Pasar Selo Boyolali Ini Jual-Beli Pakai Koin Kayu

Pembeli dan penjual bertransaksi dengan uang koin kayu di Pasar Punakawan, Desa Selo, Kecamatan Selo, yang bernuansa tempo dulu, Sabtu (26/8 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
27 Agustus 2018 21:09 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Lapangan Desa Selo, Kecamatan Selo, Boyolali yang biasanya hanya berupa hamparan rumput, pada Sabtu (25/8/2018) berubah menjadi pasar. Belasan kios berdiri di beberapa sisi lapangan.  Tapi bangunan kios-kios di lapangan yang berada di Dusun Senet tersebut tidak seperti yang ada pada kebanyakan pasar masa kini. Kios-kios itu hanya berupa gubuk yang terdiri atas atap yang disangga pilar bambu tanpa dinding, mirip dengan lapak pasar pada zaman dahulu.

Para penjualnya yang hampir semuanya adalah kaum wanita juga mengenakan kebaya sehingga suasana di pasar yang dinamakan Pasar Punakawan itu semakin tampak jadul. Masing-masing kios menjual dagangan berbeda, mulai dari sayuran, makanan dan minuman tradisional, jajan pasar, hingga kerajinan tangan.

Sementara itu, selain suasananya yang berbeda, pasar ini juga menyimpan keunikan lain. Transaksi di pasar ini tidak menggunakan uang logam atau uang kertas seperti yang dipakai saat ini, melainkan harus menggunakan uang kepingan/koin kayu. Kepingan-kepingan ini memiliki angka pada salah satu sisinya, masing-masing 1, 2,5, 5, dan 10. Jika dikonversikan dengan rupiah saat ini, kepingan dengan angka 1 setara dengan Rp1.000 dan seterusnya sesuai dengan kelipatannya.

 Untuk mendapatkan koin ini, calon pembeli atau pengunjung pasar cukup menukarkan uang mereka di loket pintu masuk pasar. Jika koin itu tidak digunakan atau ada sisa, pengunjung dapat menguangkannya kembali di loket yang sama.

Sementara itu, penggunaan koin kayu untuk bertransaksi di pasar ini menimbulkan sensasi bagi penggunanya. Juwarsi, 40, pengunjung asal Desa Paras, Cepogo mengaku merasa seolah-olah mereka merasakan berada di pasar zaman dahulu. “Unik. Rasanya seperti belanja di pasar zaman dahulu,” ujarnyaUum, 34, teman Juwarsi mengatakan menggunakan kion kayu merupakan pengalaman pertamanya untuk membeli. “Saya sebelumnya belum pernah beli pakai koin kayu, makanya pengin nyoba,” ujar Uum sebelum menyuap gado-gado pada sendok terakhirnya di sebuah kios makanan.

 Sementara bagi pedagang, menggunakan koin untuk bertransaksi membutuhkan penyesuaian untuk menyamakan nilai koin dengan uang. “Pertama-pertama belum terbiasa saat menghitung total pembelian dari pembeli, sehingga harus menghitung ulang daftar pembelian mereka. Tapi lama-lama terbiasa juga,” kata Padmi, 39, pedagang jajanan tradisional sambil menata sawut, salah satu makanan yang terbuat dari singkong. Padmi berharap, keunikan ini bisa menarik pengunjung untuk datang Pasar Punakawan yang hanya digelar sekali sepekan pada hari Minggu, nantinya.

 Banyak Potensi

Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo lah yang mengembangkan potensi wisata di Desa Selo dengan menghadirkan Pasar Punakawan. Pasar ini dikemas dengan nuansa tempo dulu dengan komoditas hasil bumi dan makanan tradisional di mana subjek utamanya warga setempat.  Dosen FH UNS, Muhammad Rustam Aji, mengatakan pasar ini dibangun dengan konsep kerja sama masyarakat setempat. “Pasar ini konsepnya kerja sama pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Pasar ini kami bangun dan nanti pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat,” ujar pembimbing PHBD KSP Principium ini saat ditemui di sela-sela acara soft launching Pasar Punakawan yang berlokasi di lapangan Senet, Desa Selo, Sabtu (25/8/2018).

Menurutnya, kegiatan tersebut didanai Program Hibah Bina Desa (PHBD) Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti). Melalui para mahasiswa yang tergabung dalam tim PHBD Kelompok Studi dan Penelitian (KSP) Principium FH UNS tersebut, pihaknya menyediakan prasarana fisik, serta pelatihan bagi warga terkait pengelolaan pariwisata dan publikasi online di media sosial.

Dipilihnya Desa Selo sebagai sasaran kegiatan karena desa ini termasuk desa pilot, yakni desa dengan banyak potensi tapi belum terkelola dengan baik. Salah satu mahasiswa anggota tim ini, Putri Noor Ilmi, menambahkan pasar wisata sengaja dibuat dengan suasana tempo dulu untuk menarik wisatawan.

Pasar ini hanya buka sekali sepekan, yakni pada hari Minggu pukul 06.00 WIB-12.00 WIB. Masyarakat bisa menikmati makanan tradisional dengan suasana yang santai berlatar Gunung Merapi.  Menurutnya, pasar tempo dulu ini akan dipromosikan secara online untuk menjangkau wisatawan yang lebih luas. “Ini adalah konsep wisata digital, di mana promosinya semuanya dilakukan via online di media sosial maupun bekerja sama dengan media lain seperti GenPi Jawa tengah,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Selo Sumarno, mengapresiasi program UNS tersebut. “Desa Selo memang perlu wahana atau spot-spot wisata baru untuk dukung keberhasilan program desa wisata. Program ini sangat kami apresiasi dan kami sangat berharap wisata di sini semakin maju agar kesejahteraan masyarakat Desa Selo semakin baik,” ujar Sumarno.

Tokopedia