Waspada Merapi: 72 Difabel Klaten Tinggal di Desa Terdekat Puncak Merapi

Gunung Merapi mengeluarkan letusan freatik terlihat dari Gerbang Tol Salatiga di Jawa Tengah, Jumat (1/6 - 2018). (Antara/Widodo S. Jusuf)
27 Agustus 2018 20:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Puluhan penyandang disabilitas tinggal di tiga desa terdekat puncak Gunung Merapi di Kecamatan Kemalang, Klaten. Persiapan evakuasi hingga penempatan mereka di selter pengungsian dilakukan seiring meningkatnya status Merapi dari normal menjadi waspada sejak 21 Mei 2018.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, mengatakan di Kemalang ada sekitar 600 difabel. Dari ratusan difabel itu, sekitar 72 difabel tinggal di tiga desa terdekat puncak Gunung Merapi serta masuk kawasan rawan becana (KRB) III dan II. Mereka tersebar di Desa Balerante 13 orang tinggal, Desa Tegalmulyo 19 orang, serta Desa Sidorejo 40 orang.

Data itu berdasarkan pendataan terakhir melalui ULD [unit layanan disabilitas] BPBD Klaten. Ada beberapa karakter kondisi disabilitas mereka. Namun, mayoritas mengalami tunadaksa,” kata Nur saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (27/8/2018).

Nur mengatakan sukarelawan di tiga desa tersebut sudah membuat petunjuk teknis untuk evakuasi mandiri jika erupsi terjadi. Petunjuk tersebut termasuk bagi para penyandang disabilitas yang butuh perlakuan khusus.

Sukarelawan di desa itu sudah mendata setiap warga hingga mempersiapkan angkutan yang mengangkut mereka. Termasuk para penyandang disabilitas itu ikut didata tidak hanya jumlahnya tetapi siapa saja yang nantinya ikut mengevakuasi, sudah disiapkan,” jelasnya.

Selain proses evakuasi, persiapan juga dilakukan terkait tempat pengungsian di selter pengungsian BPBD Klaten hingga tempat pengungsian di desa paseduluran yakni desa yang siap menerima pengungsi. Pengelola selter serta desa paseduluran diminta menyiapkan tempat khusus yang memfasilitasi kebutuhan penyandang disabilitas.

Nur mengakui penyandang disabilitas perlu perhatian khusus ketika bencana terjadi. Apalagi, mayoritas yang tinggal di kawasan lereng Merapi tak bisa mengevakuasi diri mereka sendiri. Hal itu mengacu hasil penelitian 2015 lalu yang dilakukan salah satu lembaga sosial dari Jerman. Dari penelitian itu 63 persen penyandang disabilitas yang tinggal di kawasan Gunung Merapi tidak bisa mengevakuasi diri. Sementara, 37 persen sisanya tidak bisa mengakses informasi kebencanaan.

Hasil penelitian itu menjadi salah satu referensi kami kenapa membentuk ULD BPBD Klaten dan melatih fasilitator kebencanaan supaya mereka yang sudah dilatih bisa memberikan pelatihan dan akses ke teman sesamanya. Saat ini potensi sukarelawan difabel di BPBD yang tinggal di kawasan Merapi ada enam orang,” jelas dia.

Tokopedia