Pembangunan Mal dan Hotel di Wonogiri dalam Tahap Observasi Awal

Rencana lokasi pembangunan hotel dan mal di Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
27 Agustus 2018 10:30 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Rencana pembangunan hotel dan mal di Kabupaten Wonogiri saat ini berada pada tahapan observasi awal. Investor asal Amerika, Stern Resources menyiapkan Rp200miliar dan dimungkinkan bertambah untuk aspek-aspek yang lain. Hotel dan mal rencananya menempati lahan bekas terminal induk Giri Adipura, Klampisan, Kecamatan Selogiri dengan luas dua hektare.

Ketua DPC Association of the Indonesian Tour and Travel Agencies (ASITA) Surakarta, Pri Siswanto, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (25/8/2018) menyebut rencana tersebut merupakan sinyal postif bagi Soloraya. Investor masih melihat Soloraya sangat memiliki prospek pembangunan yang baik.

“Kalau nantinya memang dilaksanakan, maka ini sebuah pengakuan dunia internasional. Potensi Wonogiri berarti sangat menjanjikan, jangan sampai hotel tersebut sama dengan kota di sekitar harus punya nilai jual tersendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, pilihan lokasi di bekas terminal lama menunjukan kemudahan akses dengan lokasi yang tepat. Produk hotel bukan hanya menjual kamar, namun event, entertain, meeting room, terkait dengan kegiatan pemerintahan juga memiliki nilai.

“Kalau kita melihat daerah lain, kebijakan ini kebijakan bagus karena kalau hotel bintang di atas bintang tiga sekalian kalau tidak ya home stay yang familiar. Kalau kami belum bisa menganalisis secara khusus sementara analisis dari investor, secara prospek bisnis sangat menjanjikan karena di Wonogiri belum ada mal sehingga menghidupkan Wonogiri,” ujarnya.

Ia menilai wilayah Wonogiri sangat luas dengan kekayaan alam dan budaya sangat banyak dan persebaran hotel tidak merata. Dibangunnya hotel juga harus ada aktivitas keramaian malam untuk menahan para tamu tetap tinggal di Wonogiri. Suasana malam harus terjaga seperti wisata kuliner malam agar tidak kembali ke kota lain di sekitar Wonogiri.

Saat ini tren industri telah menyatu di Soloraya nantinya dunia Soloraya pun juga akan menyatu tidak akan ada sekat terlebih dalam dunia bisnis. Menurutnya, event di Wonogiri cukup banyak dalam skala internasional namun para peserta justru menginap di kota lainnya. Ia mengharapkan, setelah hotel tersebut dibangun event-event dalam skala internasional dapat dibuat lebih masif.

Sementara itu, Sosiolog UNS, Argyo Demartoto, mengatakan dalam prespektif Sosiologi Pariwasata pembangunan hotel dan mal juga harus memerhatikan aspek daya tarik wisata secara jangka panjang. Hotel dan mal hanya sebagai fasilitas pendukung kelancaran dalam dunia pariwisata.

“Rencana pembangunan hotel dan mal sangat positif sekali. Ketika sudah jadi, masyarakat sekitar harus dilibatkan dari proses pembangunan hingga hotel dan mal beroperasi. Investor juga harus memahami karakter wilayah, dinamika budaya, di sekitar lokasi pembangunan agar masyarakat tidak kaget dan menimbulkan kesenjangan kebudayaan,” ujarnya.

Ia menambahkan UMKM di Wonogiri dapat dijadikan sebuah ikon dengan terlibat di hotel dan mal tersebut seperti diselenggarakan event, dimasukan di galeri. Wisatawan lokal terlebih mancanegara sangat menyukai sebuah hal yang unik dari setiap daerah hal tersebut dapat menjadi celah untuk meningkatkan UMKM.

“Tenaga kerja di hotel dari mal juga harus melibatkan penduduk lokal dan dimungkinkan mengenakan seragam ciri khas daerah Wonogiri seperi batik Wonogiren. Turis mancanegara sangat menyukai hal tersebut,” ujarnya.

Wonogiri memiliki banyak tenaga kerja produktif serta memiliki kemampuan dan keahlian untuk bekerja di hotel dan mal tersebut. Sehingga, taraf hidup masyarakat Wonogiri meningkat sehingga tidak perlu merantau karena hotel dan mal sangat banyak menyerap tenaga kerja. Pembangunan tersebut akan terdampak pada banyak aspek.

Namun, ia memprakirakan dengan adanya pembangunan hotel dan mal yang mewah maka akan terjadi kesenjangan kebudayaan. Salah satu penyebabnya, di Wonogiri saat ini belum memiliki hotel dan mal yang mewah secara tiba-tiba muncul mal yang mewah. Perilaku masyarakat yang biasanya jarang berbelanja akan menjadi over acting dengan menjadi konsumtif mengisi waktu luang mereka. Hal ini wajib dipertimbangkan oleh pemerintah kabupaten dengan melakukan sosialisasi sebelum pembangunan melalui dinas-dinas terkait seperti dinas pendidikan.

“Untuk lingkungan juga wajib diperhatikan, jangan sampai ketika pembangunan terjadi polusi suara yang menyebabkan tidak nyaman, saya rasa investor sudah memikirkan hal ini. Limbah juga dapat diolah, kalau di sekitar lokasi tersebut ada pabrik berarti cukup baik analisis mengenai dampak lingkungannya,” ujarnya. (Ichsan Kholif Rahman)

Tokopedia