4 Calo CPNS Sragen Ditahan, 2 di Antaranya PNS

Ilustrasi penipuan (Solopos/Whisnu Paksa)
28 Agustus 2018 13:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Aparat Polres Sragen menangkap dan menahan empat orang anggota komplotan makelar atau calo calon pegawai negeri sipil (CPNS). Polisi menahan mereka setelah menemukan bukti-bukti dan saksi yang memadai, Senin (27/8/2018).

Mereka diduga meminta uang senilai Rp270 juta dari dua korban untuk memuluskan anak korban menjadi CPNS namun hingga kini anak para korban itu tak ada yang jadi PNS dan uang tak dikembalikan.

Aksi keempat orang itu mengarah pada indikasi pelanggaran Pasal 372 dan 378 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara. Kasatreskrim Polres Sragen AKP Yuli Munasoni mewakili Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman saat dimintai konfirmasi Solopos.com, Selasa (28/8/2018), membenarkan informasi tersebut.

Yuli menyebut keempat tersangka terdiri atas Mustofa, 61, pensiunan PNS, asal Dukuh Karanganom RT 007, Desa Taraman, Sidoharjo, Sragen; Heru Budi Susanto, 52, seorang PNS asal Dukuh Nglarangan RT 065/RW 001, Desa/Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar; Heri Kustopo, 44, seorang PNS asal Dukuh Kradan RT 003/RW 008, Desa Sukorejo, Kecamatan Wedi, Klaten; dan Suyadi, 51, warga dukuh Ngamban RT 005, Desa Gawan, Tanon, Sragen.

Yuli menjelaskan mereka ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Laporan Polisi No. LP/B/25/III/2018/JATENG/RES.SRG, tertanggal 5 Maret 2018. Indikasi penipuan atau penggelapan itu diketahui sejak 2014 lalu dengan lokasi kejadian di Dukuh/Desa/Kecamatan Sidoharjo, Sragen.

Berkas keempat tersangka disusun menjadi dua berkas penyidikan. “Berkas Mustofa dan Heru Budi Susanto dijadikan berkas pertama sedangkan Heri Kustopo dan Suyadi menjadi berkas kedua. Kasus itu mencuat setelah ada laporan dari korban Suyatmi, 57, seorang guru SD asal Dukuh Karang RT 001/RW 003, Desa Tangkil, Sragen, yang ingin anaknya menjadi CPNS,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, jumlah korban bertambah, yakni Sumadi, 60, seorang PNS di Tangen yang tinggal di Dukuh Sogo RT 010, Desa Bandung, Ngrampal, Sragen. Sumadi juga menginginkan anaknya menjadi CPNS.

Yuli menjelaskan sebelumnya Suyatmi dan Sumadi menemui tersangka Mustofa untuk meminta bantuan agar anak mereka bisa menjadi CPNS lewat jalur seleksi umum. Kemudian Mustofa mengenalkan kedua korban kepada Heru Budi Susanto yang bisa membantu memasukkan anak para korban menjadi CPNS.

"Setelah itu Mustofa meminta uang kepada setiap korban senilai Rp10 juta dengan alasan untuk menembak sertifikat pendidik. Kemudian meminta lagi untuk mengurus administrasi terkait tes. Total uang yang diminta Mustofa kepada kedua korban Rp40 juta,” ujar Yuli.

Dari pengakuan Mustofa, kata Yuli, uang Rp40 juta itu tidak digunakan sendiri tetapi diserahkan kepada Heru senilai Rp30 juta. Yuli melanjutkan kemudian Heru juga menerima uang untuk masuk CPNS dari masing-masing korban Rp25 juta/korban. Akhirnya anak Suyatmi dan Sumadi tidak diterima lewat jalur umum.

“Kemudian urusan CPNS itu diserahkan kepada Heri Kustopo dan Suyadi agar kedua anak korban bisa masuk CPNS lewat jalur kebijakan. Sebelumnya korban sudah dikenalkan kepada Heri dan Suyadi,” terang Kasatreskrim.

Lewat jalur kebijakan itu, kedua korban dimintai uang masing-masing Rp90 juta sehingga total yang dikeluarkan kedua korban Rp180 juta. Akhirnya, anak para korban juga tidak bisa masuk CPNS dan uang tidak dikembalikan.

Yuli menjelaskan masing-masing korban mengalami kerugian Rp135 juta sehingga total kerugian Rp270 juta. Karena uang tak dikembalikan, korban melapor ke Polres Sragen.

Barang Bukti

Dari hasil penyidikan, penyidik berhasil mengumpulkan barang bukti berupa sejumlah kuitansi bermaterai. Barang bukti yang dikumpulkan penyidik terdiri atas, selembar kuitansi senilai Rp10 juta yang ditandatangani Mustofa guna mengurus sertifikat pendidik, selembar kuitansi senilai Rp5 juta tertanggal 21 Maret 2015 yang ditandatangani Mustofa guna administrasi CPNS, selembar slip transfer senilai Rp5 juta dari BNI tertanggal 2 Oktober 2014.

Selain itu dua lembar kuitansi senilai Rp25 juta tertanggal 13 November 2014 yang ditandatangani Heru Budi Susanto guna administrasi CPNS 2014, selembar kuitansi senilai Rp90 juta tertanggal 24 April 2015 yang ditandatangani Heri Kustopo dan Suyadi, dan selembar surat perjanjian tertanggal 24 April 2015.

Bukti lainnya yakni selembar tanda terima usulan formasi tertanggal 2 Agustus 2015, selember surat dari Heru Budi Susanto, tujuh lembar surat pernyataan, satu bendel berkas sisa pendaftaran CPNS, dan selembar kuitansi Rp5 juta tertanggal 30 Juni 2014 yang ditandatangani Mustofa.

Ada pula selembar kuitansi Rp5 juta tertanggal 15 Agustus 2014 yang ditandatangani Mustofa, selembar kuitansi Rp10 juta tertanggal 22 Agustus 2014 yang ditandatangani Mustofa, selembar kuitani Rp90 juta tertanggal 29 April 2015 yang ditandatangani Heri Kustopo dan Suyadi, dan satu bendel berkas sisa pendaftaran CPNS.

“Pada saat penyidikan para tersangka tidak ditahan. Kemudian setelah pemberkasan perkara tersebut lengkap [P21] pada 1 Agustus 2018, sebelum tahap II tersangka ditahan, tepatnya Senin [27/8/2018] lalu di Rumah Tahanan Polres Sragen. Para tersangka dan barang bukti akan dilimpahkan ke Kejari untuk tahap II pekan depan,” ujarnya.

Tokopedia