Harapan Warga Boyolali, Semoga Kebun Raya Indrokilo Jadi Sarana Edukasi

Pengunjung berfoto di Kawasan Kebun Raya Indrakilo Rabu (22/3 - 2018). Kebun raya ini menjadi salah satu pilihan destinasi wisata bagi warga Boyolali dan sekitarnya. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
28 Agustus 2018 21:03 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Aprilia, 15, dan Dwi Lestari, 16, bergantian mengayunkan tongkat narsis (tongsis) di beberapa lokasi saat mereka berdua mengunjungi Kebun Raya Indrokilo di Desa Kemiri, Mojosongo, Boyolali, Rabu (22/8/2018) pagi. Dua gadis SMA itu datang dari Boyolali Kota untuk mengisi waktu liburan sekolah di Hari Raya Iduladha.

Sepengetahuan Dwi, kebun raya mulai dibuka sekitar bulan puasa lalu. Dirinya sudah lebih dari satu kali mengunjungi tempat ini bersama teman yang berganti-ganti. “Lupa sekitar tiga atau empat kali,” kata dia saat berbincang dengan wartawan solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di Kebun Raya Indrokilo, Rabu (22/8/2018) siang.

Bagi Dwi, pergi ke Indrokilo untuk berwisata bersama sahabat. Dia tak lupa membawa ponsel pintar dan beberapa perangkat swafoto seperti tongsis dan kata-kata mutiara yang sebelumnya dia siapkan pada secarik kertas. Tempat favorit Dwi di kompleks kebun itu adalah ruang tanaman yang berbentuk seperti kubah, serta beberapa tanaman merambat yang mengapit kubah itu.

“Tempat ini juga yang paling sering muncul di media sosial,” imbuh dia. Senada Dwi, Aprilia merasa cocok menjadikan Indrokilo sebagai tempat berlibur singkat lantaran aksesnya yang cukup dekat dari rumah. Tidak adanya retribusi parkir maupun harga tiket masuk menjadi nilai tambah bagi kantong pelajar seperti Aprilia. Selain Aprilia dan Dwi, siang itu puluhan orang tampak memadati Kebun Raya Indrakilo.

Rata-rata mereka berusia remaja SMP dan SMA. Perangkat yang dibawa pun sama, ponsel pintar dan tongkat narsis sembari mengantre di beberapa sudut favorit yang kerap muncul di lini masa media sosial. Aprilia mengakui dirinya tak terlalu mengindahkan jenis-jenis tanaman yang ada di kompleks kebun raya itu.

Dia bahkan mengatakan tidak mengetahui hampir semua jenis tanaman. “Ya soalnya tidak ada tulisan dan penjelasannya, mungkin karena kebunnya belum jadi sehingga informasi belum lengkap,” kata dia. Dwi pun mengungkapkan hal senada, dia tak peduli dengan rupa-rupa nama tanaman di sana. “Mungkin karena kebutuhan rekreasi sudah berubah, sekarang yang penting tempat instagramable,” imbuhnya.

Meski demikian April mengatakan Kebun Raya Indrokilo akan lebih bermanfaat bagi pelajar seperti dirinya apabila ditambahi dengan muatan edukasi. “Minimal nama tanaman beserta nama ilmiah dan jenisnya, kalau bisa ya ada deskripsi singkat,” kata dia.

Pengunjung lain, Muhammad Ilmi, 16, mengatakan kebun raya ini terlalu sayang jika hanya digunakan sebagai sarana rekreasi. “Ya minimal bisa buat pelajaran Biologi lah,” kata dia. Dengan nada bercanda Ilmi pun berujar dirinya mau membayar tiket masuk jika dananya akan digunakan untuk mengembangkan kebun raya ini. “Mbok mending bayar asal lebih terawat,” ujarnya sambil terkekeh.