Perusahaan Korea Bikin Pabrik Garmen di Pedan Klaten

Ilustrasi pembangunan pabrik di kawasan industri. (Bisnis/Dwi Prasetya)
28 Agustus 2018 20:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Perusahaan asal Korea berencana mendirikan pabrik di Klaten. Perusahaan yang bergerak di bidang produksi sarung tangan itu bakal mendirikan pabrik di wilayah Kecamatan Pedan.

Kabid Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Klaten, Purwanto Agus Raharjo, mengatakan perwakilan perusahaan tersebut sudah mendatangi DPMPTSP sebelum Ramadan lalu untuk menyampaikan minat mendirikan perusahaan di Klaten. Saat ini, perwakilan perusahaan masih mengurus perizinan.

Masih tahapan pengajuan izin seperti izin prinsip, IMB, dan sebagainya. Lokasi yang bakal dibangun pabrik berada di sekitar gardu listrik PLN wilayah Pedan,” jelas Agus saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (28/8/2018).

Agus menjelaskan perusahaan asing yang berencana mendirikan pabrik di Pedan tersebut merupakan salah satu perusahaan yang pernah menyatakan minat menanamkan investasi di Klaten saat digelar Central Java Investment Business Forum (CJIBF) di Solo 2017 lalu. Soal nilai investasi, ia memperkirakan mencapai Rp55 miliar.

Sementara itu, total realisasi investasi di Klaten hingga triwulan I 2018 sebesar Rp98,2 miliar. Nilai realisasi itu terdiri dari penanaman modal asing senilai 79,2 US Dollar atau Rp1,12 miliar dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp97 miliar.

Agus menuturkan rata-rata perusahaan yang menanamkan modal di Klaten bergerak di bidang garmen. Hal itu menyusul relokasi pabrik tekstil dan garmen dari Jabodetabek ke Jawa Tengah (Jateng).

Dari sisi nilai upah di Klaten lebih murah dibanding di Jabodetabek. Kecenderungannya di Klaten tidak mendirikan bangunan baru tetapi menyewa bangunan perusahaan yang sudah ada, lebih hemat. Kebanyakan memang berada di wilayah Kecamatan Ceper,” kata Agus.

Terkait potensi penanaman modal di Klaten, Agus mengatakan sulit diprediksi. Apalagi, penanaman modal di Klaten hingga kini masih terkendala lahan. Persoalan lahan selama ini dinilai dilematis. Di satu sisi, Klaten sudah ditetapkan menjadi lumbung padi nasional hingga ada puluhan ribu hektare (ha) sawah yang ditetapkan menjadi sawah lestari.

Kami sudah sampaikan ke pemerintah provinsi yang menjadi persoalan kami itu pada lahan. Terbatasnya lahan untuk mendirikan perusahaan menjadikan harganya mahal. Kami juga tidak bisa membuat kawasan ekonomi khusus,” jelas dia.

Plt. Kepala DPMPTSP Klaten, Surti Hartini, juga menjelaskan dari tahun ke tahun realisasi investasi di Klaten susah diprediksi. “Untuk upaya mendongkrak nilai investasi selama ini kami terus promosi. Selain itu, proses perizinan sekarang juga lebih mudah. Daftar ulang izin gangguan sudah tidak ada,” kata Surti saat ditemui Solopos.com beberapa waktu lalu.

Tokopedia