Tercemar Limbah Ciu, Begini Kondisi Sawah Mojolaban Sukoharjo

Areal persawahan yang tercemar limbah cair ciu di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (28/8 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
29 Agustus 2018 07:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sejumlah petani di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, meradang lantaran areal persawahan mereka tercemar limbah ciu. Akibat limbah itu, air di lahan pertanian mereka berubah menjadi kehitaman.

Mereka memprotes keras para pengrajin alkohol yang membuang limbah cair ciu ke saluran irigasi pertanian mereka. Mereka meminta agar pembuat alkohol yang terbukti membuang limbah cair ciu sembarang diberi sanksi.

Keluhan tersebut disampaikan sejumlah pengurus gabungan kelompok tani (gapoktan) di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, saat mendatangi kantor kepala desa setempat, Selasa (28/8/2018). Mereka ditemui Kepala Desa Bekonang Joko Tanyono dan Sekretaris Desa Bekonang Sugiyarto.

Para pengurus gapoktan meminta pemerintah desa bersikap tegas dengan memberi sanksi kepada pengrajin alkohol yang terbukti membuang limbah cair ciu sembarangan ke saluran irigasi.

Ketua Gapoktan Desa Bekonang, Asih Supomo, mengatakan pengrajin alkohol tetap nekat membuang limbah cair ciu ke saluran irigasi pertanian. Biasanya, mereka membuang limbah ciu pada malam hari untuk mengelabui warga setempat.

“Pembuangan limbah cair ciu ke saluran irigasi dilakukan sejak 2013. Harus ada penanganan agar tak merugikan para petani,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa.

Limbah cair ciu dibuang ke saluran irigasi pertanian yang mengairi areal persawahan di sebagian besar wilayah Mojolaban dan Polokarto. Para petani tak berani menanam benih padi karena sawah telah tercemar limbah cair ciu.

Selain sawah, limbah cair ciu juga mencemari air sumur yang digunakan masyarakat untuk memasak dan mencuci. Air sumur yang tercemar limbah cair ciu tak bisa lagi dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih setiap hari.

“Saya memperkirakan pembuangan limbah ciu makin parah saat Dam Colo ditutup pada 1 Oktober selama sebulan. Tak ada pasokan air ke lahan pertanian,” ujar Asih.

Lebih jauh, Asih menjelaskan sejatinya para pengrajin alkohol sudah membuat surat pernyataan bakal menghentikan produksi alkohol jika terbukti membuang limbah cair ke saluran irigasi pertanian. Namun praktiknya masih ada pengrajin alkohol yang membuang limbah cair ciu ke saluran irigasi pertanian.

Sementara itu, Kepala Desa Bekonang, Joko Tanyono, menyatakan bakal berkoordinasi dengan forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkopincam) Mojolaban dan pengurus paguyuban pengrajin alkohol untuk mencari solusi alternatif kasus pembuangan limbah cair ciu.

Joko bakal mengajukan proposal bantuan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpadu ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.