Caleg Sragen Butuh 12.000 Suara untuk Amankan Kursi DPRD

Ilustrasi caleg. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
29 Agustus 2018 21:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Para calon anggota legislatif (caleg) di Kabupaten Sragen harus meraup 10.000-12.000 suara untuk mengamankan satu kursi di DPRD Bumi Sukowati pada Pemilu 2019 mendatang.

Sekretaris DPD II Partai Golkar Sragen, Sri Pambudi, mengatakan bila menggunakan bilangan pembagi pemilih seperti pada Pemilu Legislatif 2014, caleg di wilayah Dapil IV cukup dengan mendapat 12.000 suara sudah aman.

Tingkat partisipasi Pemilu Legislatif 2014 dari catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen mencapai 72,86%. Bila persentase partisipasi tersebut digunakan sebagai asumsi menghitung rasio kursi di DPRD Sragen berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu Legislatif 2019 ditemukan angka 12.834 suara per kursi untuk Dapil IV.

“Biasanya tingkat partisipasi itu bisa mencapai 75%. Dengan rasio 12.000 suara per kursi itu tidak memberatkan bagi partai besar. Para caleg lainnya tentu sudah memiliki estimasi sejak awal. Saya kira Pemilu Legislatif 2019 ini ada peningkatan jumlah pemilih bila dibandingkan 2014 tetapi tidak begitu signifikan karena hanya pemilih pemula yang bertambah,” ujar Pambudi yang juga caleg Partai Golkar dari Dapil IV Sragen saat dihubungi Solopos.com, Rabu (29/8/2018).

Dia menjelaskan penghitungan kursi antara Pemilu Legislatif 2019 berbeda dengan 2014 karena pada pemilu nanti menggunakan metode Sainte-Lague. Kendati demikian, bagi Pambudi, metode tersebut tidak begitu dirasakan di internal Golkar karena simulasi perolehan suara Golkar 2014 dengan sistem Sainte-Lague ternyata hasilnya juga sama.

“Kalau partai lain ada yang berkurang dan ada yang bertambah dengan simulasi tersebut,” ujarnya.

Sekretaris DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sragen, Suparno, mengatakan rasio suara per kursi DPRD Sragen itu mestinya mengacu pada partisipasi atau suara sah. Tingkat kehadiran pemilih ke TPS, ujar dia, bisanya hanya 70% lebih sedikit.

Suparno yang tercatat sebagai caleg di Dapil I menilai rasio suara per kursi di dapilnya yang aman bagi caleg 10.000-11.000 suara per kursi. Tetapi bila mengacu pada asumsi partisipasi 72,86% (2014), satu kursi membutuhkan 11.505 suara.

Dia baru menyadari rasio suara per kursi di Dapil I paling kecil dibandingkan dapil lainnya. “Kursinya [di Dapil I] paling banyak. Dengan angka suara kecil mestinya peluangnya lebih besar tetapi calegnya kan juga banyak, 98 orang. Artinya, kursi yang sedikit diperebutkan orang banyak maka persaingannya menjadi ketat. Semakin banyak kursi direbut barang akan semakin langka,” katanya.

Suparno sebagai petugas partai mau tidak mau siap bekerja keras dan bertempur untuk mencapai target yang ditentukan partai, yakni empat kursi di Dapil I. Dia sudah mengalkukasi kantong-kantong pendulang suara bagi dirinya dan PDIP. Ia juga sudah mengestimasi suara berdasarkan Sainte-Lague.