Tak Bisa Garap Sawah, Petani Boyolali Pilih Angon Ternak

Petani mencangkul di area persawahan yang mengalami puso di Desa Pranggong, Andong, Boyolali, Selasa (28/8 - 2018) pagi. (Solopos/ Nadia Lutfiana Mawarni)
29 Agustus 2018 15:46 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -  Lahan persawahan di Kecamatan Andong, Boyolali,  menjadi wilayah yang paling parah terkena puso. Total 436 hektare lahan pertanian di Andong mengalami puso.  Warga pun memutar otak untuk memutar otak dalam menggarap sawah. Sarju, 45, sejak pagi sudah buru-buru berangkat ke sawah yang digarapnya di Desa Pranggong, Kecamatan Andong, Boyolali. Bermodal cangkul yang disampirkannya di punggung, Sarju mengendarai motor butut menuju sawah yang juga tanah kas desa itu. “Karena tidak punya tanah pribadi ya terpaksa harus menyewa,” kata Sarju saat berbincang dengan wartawan Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di sawah garapannya, Selasa (28/8/2018) pagi.

Tak seperti sawah lain, sawah yang digarap Sarju tidak mendapatkan aliran air dari sumur pantek yang tersebar di beberapa titik. Akibatnya, pascapanen jagung saat musim tanam ketiga lahan itu masuk kategori puso. “Karena air enggak ada setelah jagung panen enggak bisa tanam jagung lagi, kalau dulu masih bisa,” kata dia.

Tahun ini menjadi kekeringan terparah yang diingat Sarju selama bekerja menjadi petani sejak usia remaja. Tanah di sawah Sarju pun mengeras. Pria yang berusia hampir separuh abad itu terpaksa mengayunkan cangkul hingga tiga kali lebih banyak agar tanah tidak terlanjur kering dan pecah-pecah.

Sarju memulai hari dengan tetap mencangkul sawah puso, satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk menjaga lahan sembari menunggu hujan datang. Sambil mencangkul, dia membersihkan sisa-sisa pohon jagung yang tidak bisa ikut dipanen. Sarju mengatakan setelah lahan itu kembali bersih, dia akan menaburi tanah itu dengan sisa pupuk. “Setelah itu ya sudah, tinggal tunggu hujan, kalau tidak hujan tidak akan digarap,” kata dia.

Praktis, Sarju kehilangan pendapatan dari sektor pertanian. Sebagai ganti, dia memilih memelihara sapi atau kambing. Meski begitu memelihara ternak juga bukan pilihan yang baik mengingat kekeringan membuat pakan rumput semakin langka. “Kalau sudah begitu pilihan satu-satunya ya tinggal buruh serabutan,” kata dia sambil terkekeh.

Tinggal di Desa

Di tahun-tahun lalu, menjadi buruh serabutan saat kemarau adalah pekerjaan yang lebih dipilih Sarju ketimbang menanam palawija. Terhitung dia pernah mengadu nasib ke Kota Bengawan bahkan Ibu Kota selama beberapa pekan untuk beralih pekerjaan. Meski demikian, tahun ini Sarju tetap memilih tinggal di desa. Dia lebih suka angon atau menggembala sapi ketimbang jadi tukang, sesekali dia mengisi waktu membuat sapu sepet. Tujuh bulan menghadapi kemarau, Sarju optimistis jika saatnya tiba hujan pasti akan turun.

“Akhir tahun atau paling lama Maret semoga hujan turun,” kata dia. Kini selain menunggu hujan, Sarju berharap ada bantuan pengairan untuk sawah-sawah di desanya yang tidak terjangkau sumur pantek.

Senada dengan itu, petani lain, Parjono, 50, juga berharap hal yang sama. Terletak bersebelahan dengan lahan garapan Sarju, Parjono menyewa 2 petak sawah seharga Rp2,5 juta per tahun. “Sama-sama tak terjangkau air,” kata Parjono.

Dampak kekeringan dia rasakan saat panen jagung beberapa waktu lalu. Tahun sebelumnya, Parjono mengantongi 4,5 kuintal, tahun ini hasil panennya turun menjadi 3 kw. Parjono bercerita beberapa kali petani berusaha mencari sumber air baru dengan menggali di beberapa titik. Sayang, hasilnya nihil.

“Ya mungkin dari Gusti Allah kehendaknya memang begini,” kata dia. Kini, menunggu hujan tiba, Parjono mengisi waktu dengan menggembala sapi sembari setengah menganggur. Dia optimistis November akan tiba saatnya untuk hujan dan petani bisa kembali menanam padi.

Tokopedia