Rangka Payung Juwiring Klaten Sulit Didapat

Pengrajin membuat rangka payung hias di rumahnya di Juwiring, Klaten, Rabu (29/8).(Solopos - Cahyadi Kurniawan)
29 Agustus 2018 19:40 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATENSejumlah pengrajin payung hias di Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring, Klaten, mengaku kesulitan mendapatkan rangka payung. Untuk mendapatkan rangka payung, pengrajin harus menunggu berbulan-bulan.

Salah satu pengrajin payung, Suparno, 63, mengatakan pengerjaan pesanan payung untuk keperluan rias pengantin terpaksa mundur dari jadwal yang disepakati. Dari 300 payung yang dipesan, baru setengahnya yang jadi. Sisanya, ia masih menunggu suplai rangka dari pengrajin lain.

Baru ada sekitar 150. Itu pun saya menunggu dua bulan untuk dapatnya,” ujar dia, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Dukuh Gumantar, Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring, Klaten, Rabu (29/8/2018).

Ia menuturkan satu set rangka berisi susun tiga dibeli seharga Rp25.000 dari pengrajin. Agar pesanan cepat jadi, ia membayar lunas seluruh pesanan itu di awal kepada pengrajin. Namun, sebelum pesanan jadi, ia memberikan lagi sejumlah uang kepada pengrajin rangka dengan harapan pengerjaan rangka mendapat prioritas dikerjakan. Sejumlah uang kembali diberikan kepada pengrajin rangka saat pesanan diambil. Sejumlah yang diberikan itu biasanya dipakai untuk pesanan-pesanan berikutnya.

Jadi membayarnya bisa dua-tiga kali. Beruntung kalau tepat waktu, sudah begitu molor lagi,” keluh Suparno.

Hal senada juga disampaikan pengrajin lain, Anang Rodhiyanto, 37. Anang mengatakan kesulitan bahan baku rangka mengakibatkan pengerjaan pesanan terhambat. Ia pun terpaksa harus menunda pesanan ke sejumlah pelanggan lantaran tak ada bahan baku.

Ia mengeluhkan selain langka, pengerjaan rangka kerap molor dari jadwal yang disepakati. Tak jarang, rangka pesanan yang sudah jadi justru dijual ke pembeli lain dengan harga lebih tinggi. Otomatis, ia harus menunggu waktu lagi agar pesanannya jadi. “Ya mau bagaimana lagi. Saya enggak bisa bikin rangka. Mau enggak mau harus menunggu,” tutur dia.

Sebagai solusinya, Anang berencana membuat sendiri rangka payung hias. Ia sedang menyiapkan sumber daya manusia agar dilatih membikin rangka payung. “Jadi hubungannya bukan bawahan, tapi mitra. Dia bikin rangka, saya membeli. Jadi sama-sama untung. Yang penting pengerjaannya tepat waktu dan kualitasnya memenuhi standar,” harap dia.

Salah satu pengraji rangka payung hias, Amat Sutrisna, 61, mengatakan satu set rangka payung isi tiga ia jual seharga Rp20.000. Selama ini, ia rutin menyuplai rangka untuk dua pengrajin payung yakni di Gumantar sebanyak 100 set dan 30 set di Tlogoradu per bulan. Di luar pesanan itu, pengerjaannya mengikuti kemampuannya dan istrinya, Sugeng Rahayu, 61.

Kalau pesan ke saya biasanya minta waktu sebulan dan toleransi 7-10 hari. Kalau enggak mau ya silakan cari yang lain,” ujar Amat.

Ia juga membenarkan soal pembayaran pesanan yang dilakukan hingga tiga kali. Pesanan biasanya dibayar lunas oleh pemesan. Di tengah-tengah pengerjaan, pemesan biasanya memberikan lagi sejumlah uang mulai Rp500.000 hingga Rp1 juta. Saat mengambil rangka, pemesan kembali memberikan uang lagi kepada Amat.

Biasanya akan bilang ’Nih, untuk kekuatan.’ biasanya begitu. Di sini, hal seperti itu biasa. Uang yang diberikan itu nanti dipakai untuk membayar pesanan berikutnya. Begitu seterusnya,” beber Amat, dibenarkan oleh Sugeng Rahayu.

Ia mengaku ada sejumlah kendala pemenuhan pesanan pelanggannya yakni kegiatan sosial seperti Agustusan, pernikahan, kematian, hingga gotong-royong bersih-bersih lingkungan. Tak hanya itu, pengrajin kesulitan mendapatkan bambu yang bagus untuk bahan rangka. Bambu yang keras biasanya mudah patah saat dilengkungkan.