Tingkatkan Kesejahteraan Lewat Pemanfaatan Pekarangan Rumah

Kader harmoni dan pengurus Kelompok Wanita Tani merawat tanaman sayur di pekarangan rumah pada Kamis (23/8 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
29 Agustus 2018 14:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Pengurus Yayasan Harmoni, Nining Solihah Muktamar, memamerkan pemanfaatan pekarangan rumah di Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar. Bagian dari program Kampung Harmoni Berseritera (bersih, sehat, rapi, indah, dan sejahtera). Bentuk program pemanfaatan pekarangan rumah adalah menanam tanaman produktif, sehat, dan bergizi di setiap pekarangan rumah.

Program Kampung Harmoni Berseritera dilaksanakan di delapan rukun tetangga (RT) di Dusun Karangkidul. Setiap RT memiliki kader harmoni, yakni warga yang berkomitmen dan peduli lingkungan. Status mereka sukarelawan. Mereka inilah penggerak program Kampung Harmoni Berseritera di setiap RT.

"Mendukung gerakan menyelamatkan bumi. Memenuhi kebutuhan pangan, gizi keluarga, dan masyarakat. Meningkatkan pengelolaan pekarangan ramah lingkungan menggunakan biopori. Dan terakhir mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga. Goalnya peningkatan kesejahteraan keluarga," kata Nining saat ditanya tujuan pemanfaatan pekarangan rumah saat berbincang Solopos.com, Kamis (23/8).

Konsep pemanfaatan pekarangan rumah adalah warga menanam tanaman produktif, seperti sayur mayur pada kantong plastik maupun barang bekas. Penanaman secara organik. Khusus untuk program pemanfaatan pekarangan rumah, kader harmoni bekerja sama dengan pengurus Kelompok Wanita Tani.

"Kader harmoni dan kelompok wanita tani ini garda depan pemanfaatan pekarangan rumah. Ada 16 orang di delapan RT. Kunci keberhasilan program adalah partisipasi warga. Sekarang lebih baik [partisipasi warga meningkat]. Warga mau menanam, merawat, dan meneruskan menanam," tutur dia.

Solopos.com membuktikan dengan berkunjung ke rumah Ketua Kelompok Wanita Tani di RT 004/RW 001, Sri Sartini. Istri Rochmad Saleh itu menunjukkan 20 kantong plastik tanaman sayur mayur, seperti tomat, cabai, terung, selada, dan lain-lain. Tetangga di samping dan depan rumahnya pun menanam tanaman serupa. Sartini mengaku membujuk warga untuk mau memanfaatkan pekarangan rumah itu gampang-gampang susah.

"Pekarangan kosong dikasih tanaman di kantong plastik. Saya jawili tetangga sekitar rumah dulu lalu ke warga lain kalau pas ketemu di jalan atau rapat PKK. Sebagian ada yang menolak. Alasan sibuk kerja dan bingung merawat. Padahal bibit gratis. Pelan-pelan [dijelaskan] tetapi enggak memaksa," ujar dia saat berbincang dengan Solopos.com di teras rumah.

Program pemanfaatan pekarangan rumah terintegrasi dengan salah satu program sekolah warga terpadu, yakni membuat green house dan bibit tanaman. Warga mendapatkan bibit dari kader harmoni yang mengelola green house cuma-cuma. Sartini mengaku senang karena dia dapat menghemat pengeluaran di dapur.

"Saya itu belum pernah menanam tapi saya mau. Gantian dengan suami untuk merawat. Saya sudah petik cabai untuk sambal, bumbu masak. Senang hlo walaupun sedikit-sedikit. Selain itu halaman depan lebih asri, ada hijau-hijau," tutur dia.

Sartini berharap seluruh warga RT 004 mau sungguh-sungguh memanfaatkan pekarangan rumah. Tetapi, dia juga berharap warga mendapat pelatihan merawat tanaman supaya hasil panen lebih maksimal. Berbeda dengan Sartini yang mengaku masih belajar bertanam di kantong plastik, salah satu kader harmoni di RT 002/RW 001, Parmo, tampaknya sudah lebih mahir.

Solopos.com melihat tempat pembibitan di samping rumah. Ada bibit tomat, terung, dan cabai. Parmo mengaku menyuplai bibit ke sejumlah RT lain tetapi prioritasnya RT 002. Seperti kader harmoni lainnya, Yayasan Harmoni memberikan bantuan bibit dan sarana prasarana pembibitan. Untuk pupuk organik, Parmo mengolah kotoran kambing miliknya.

Parmo bercerita pembibitan terkendala ayam. Mereka doyan memakan bibit yang sedang tumbuh maupun tanaman sayur milik warga yang sudah berbunga. Sejumlah warga yang mengalami hal itu meminta dibuatkan bibit baru. "Habis dimakan ayam. Mereka minta dibuatkan bibit. Kalau seperti itu beli, bukan bantuan. Satu polybag kecil Rp400 sedangkan yang besar Rp3.500-Rp4.000 per polybag. Senang sih, mereka antusias pingin merawat sampai panen. Banyak yang sudah sadar memanfaatkan pekarangan," jelas dia.

Parmo mengaku kebahagiaannya melihat warga penerima bantuan merawat bibit hingga berbuah dan panen. Dia mengapresiasi kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan lingkungan. Salah satu contoh, warga RT 001/RW 001, Kartini. Dia meminta bantuan Parmo membuat rak dan bibit tanaman untuk pekarangan rumahnya.

"Saya pingin lihat pekarangan tetangga hijau-hijau. Terung, tomat, cabainya tumbuh. Bagus dipandang. Bisa petik sewaktu-waktu kalau butuh. Ini meringankan kami," ujar dia.

Sementara itu, Bayan Karangkidul, Desa Pulosari, Loso Wibowo, menuturkan program Kampung Harmoni Berseritera bermanfaat bagi warga kampung. Salah satunya pemanfaatan pekarangan rumah. Loso juga mengapresiasi partisipasi warga. Dia berharap program itu berjalan berkesinambungan.

"Program baik karena membantu kami menghijaukan kampung. Suasana kampung lebih asri. Selain itu, program itu bisa membantu ibu-ibu memanfaatkan waktu daripada mengobrol. Mereka bisa merawat tanaman, hasil panen bisa dimanfaatkan sendiri atau dijual. Harapan kami seluruh warga bisa memanfaatkan pekarangan rumah sebaik-baiknya," tutur dia.