Pemkab Karanganyar Bidik Remaja Putri untuk Tekan Stunting

Ilustrasi stunting (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
29 Agustus 2018 21:05 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :
Solopos.com, KARANGANYAR -- Perubahan perilaku higienis dan konsumsi tablet tambah darah untuk remaja putri adalah cara mencegah stunting atau pertumbuhan terhambat.

Beberapa waktu lalu pada sejumlah pemberitaan ramai membahas stunting. Dalam Bahasa Inggris, stunting berarti kerdil. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mendefinisikan stunting sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah dua tahun yang disebabkan kekurangan gizi pada waktu lama (kronis).

Pemerintah pusat memasukkan penurunan angka stunting sebagai salah satu program prioritas nasional. Oleh karena itu, hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia mulai mencanangkan program serupa.

Salah satunya Kabupaten Karanganyar melalui Pencanangan Lima Pilar STBM dan Launching Tablet Tambah Darah (TTD) Kabupaten Karanganyar Tahun 2018 di Lapangan Desa Jumapolo, Kecamatan Jumapolo, Rabu (29/8/2018).

Kecamatan Jumapolo menjadi kecamatan percontohan pelaksanaan lima pilar sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dan konsumsi tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri sebanyak satu tablet per pekan. Dua program tersebut merupakan sejumlah upaya mencegah stunting.

Solopos.com menelusuri sejumlah cara mencegah stunting. Ada yang membagi upaya dilakukan sejak masa kehamilan hingga setelah anak lahir.

Sejak masa kehamilan dilakukan dengan memberikan asupan gizi yang baik dan seimbang sejak janin dalam kandungan, ibu hamil tidak boleh mengalami anemia, dan pemeriksaan kesehatan ibu selama masa kehamilan.

Upaya mencegah stunting dilanjutkan setelah anak lahir dengan memberikan air susu ibu (ASI), vaksinasi, dan asupan makanan yang seimbang dan sesuai usia. Hal penting lainnya adalah jangan membiarkan anak mengalami sakit infeksi berulang.

"Kegiatan pelaksanaan lima pilar STBM dan konsumsi TTD untuk mencegah stunting. Mencegahnya ya melalui gerakan masyarakat hidup sehat. Goal lain adalah menurunkan angka kematian ibu dan bayi," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar, Fatkhul Munir, saat ditemui wartawan seusai acara.

Fatkhul memaparkan data kasus stunting di Karanganyar 22,6%. Dasarnya adalah hasil survei pemantauan status gizi. Dia mengklaim persentase itu di bawah angka Provinsi Jawa Tengah dan Indonesia. Salah satu penyebab stunting adalah risiko anemia pada remaja putri atau calon ibu. 

Stunting tidak bisa dianggap sepele karena dampak jangka pendek yakni perkembangan anak-anak terhambat, penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan gangguan sistem pembakaran serta berisiko kematian pada balita.

Dampak jangka panjang saat dewasa yaitu mudah mengalami kegemukan sehingga rentan serangan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, hipertensi ataupun diabetes dan berisiko kematian ibu.

"Hasil penjaringan pada anak SMP tahun 2017 diperoleh data 4,77% remaja putri berisiko anemia. Anemia dapat menjadi salah satu faktor penyebab berat bayi lahir rendah (BBLR) bahkan kematian ibu dan bayi atau melahirkan bayi stunting," jelas dia.

Oleh karena itu Stop BABS dan pengembangan lima pilar STBM perlu ditindaklanjuti untuk mendukung penurunan stunting di Karanganyar. Cara lainnya konsumsi TTD untuk remaja putri.

Sasaran TTD adalah remaja putri yang sudah menstruasi hingga sebelum menopause. DKK bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menyukseskan program tersebut. 

"Pemberian TTD itu salah satu cara cegah stunting sejak dini. Kenapa remaja karena setelah itu menikah, hamil, melahirkan bayi. Agar calon ibu sehat. Distribusi TTD ke puskesmas, posyandu. Kami pembinaan ke usaha kesehatan sekolah [UKS]. Gerakan ini masif. TTD itu tambah darah, tambah gizi. Setiap Jumat. Sejauh ini tidak ada yang menolak," ujar dia.

Fatkhul juga memaparkan data kondisi eksisting akses sanitasi dan empat pilar STBM di Karanganyar hingga 14 Agustus 2018. DKK Karanganyar mengklaim sudah tidak ada keluarga melakukan perilaku buang air besar sembarangan (BABS). Kepemilikan sarana jamban sehat sudah 97,36%.

Persentase pilar STBM yang lain adalah keluarga menerapkan cuci tangan pakai sabun (CTPS) 69,60%. Keluarga mengelola air minum dan makanan dengan aman 86,46%. Keluarga mengelola sampah dengan aman 72,14%. Dan keluarga mengelola limbah rumah tangga dengan aman 59,79%.

"Akses sanitasi layak sudah melampaui target Jawa Tengah maupun nasional. Namun masih ada 5.885 keluarga belum memiliki jamban dan buang air besa [BAB] masih menumpang di jamban tetangga. Pilar kedua sampai lima masih di bawah 100%. Ini bagian mendukung dan memantapkan akses sanitasi menyeluruh," ujar dia.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, berharap program itu tidak berhenti pada pencanangan saja di Jumapolo.

"Luar biasa. Mudah-mudahan perilaku hidup bersih ini menjadi kebutuhan dan budaya kita. Keluarga jadi basis penting. Keluarga tahu persis kebutuhan anak perempuannya. Harapan akhir dari program ini adalah Karanganyar melahirkan sumber daya manusia andal, berkualitas," ujar dia saat memberikan sambutan. 

Tokopedia