Warung Lotis Boyolali Ini Ketiban Berkah Tiap Ada Mokmen

Warung lotis di Jl. Pandanaran, utara Bank Boyolali ramai pembeli saat ada razia polisi di dekat warung tersebut. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
30 Agustus 2018 09:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, SOLO -- Salah satu tempat di Boyolali yang kerap dipakai polisi untuk menggelar razia lalu lintas (mokmen) oleh Satlantas Polres Boyolali adalah Jl. Pandanaran, Boyolali kota. Seperti yang terjadi pada Rabu (29/8/2018) sekitar pukul 12.00 WIB.

Saat razia, kerumunan petugas dan puluhan pengendara yang sedang diperiksa surat-surat dan kelengkapannya membuat pengendara sepeda motor lain memelankan laju kendaraan mereka.

Saat mendapatkan giliran diperiksa, pengguna jalan yang baru saja memutari simpang lima ke arah Pasar Sunggingan/Ampel ini menunjukkan surat-surat mereka. Bagi yang sepeda motornya sesuai spek dan sesuai aturan lalu lintas, mereka menghadapi petugas dengan tenang.

Sebaliknya, pengendara yang tidak membawa surat-surat kendaraan atau tunggangannya tidak sesuai spek standar atau tidak sesuai aturan lalu lintas, keberadaan polisi itu membuat gugup karena takut kena razia dan mendapat surat tilang.

Namun untuk berbalik arah tidak mungkin karena jalur tersebut dibatasi median jalan. Selain itu, ada polisi-polisi lain yang mengamati mereka.

Alih-alih menghindari razia, sebagian mereka biasanya langsung banting setir ke kiri alias menepi ke pinggir jalan. Mereka berpura-pura berhenti di warung lotis yang lapaknya ada di trotoar.

Agar upaya mereka mengelabui petugas semakin meyakinkan, mereka memesan beberapa menu. Ada yang memesan rujak, lotis, atau sekadar memesan jus.

Jadilah warung yang sebelumnya sepi, saat razia tiba-tiba ramai. Di sisi lain, polisi di sekitar warung pun bersikap bisaksana. Petugas membiarkan para pengunjung warung itu menyelesaikan makan siang mereka.

Selanjutnya, petugas tetap melakukan pemeriksaan terhadap mereka. Ternyata benar, hampir semua kendaraan yang mampir ke warung tersebut bermasalah.

Salah satunya Sariman, 40, warga Tulung, Klaten, yang saat itu tidak membawa BPKB maupun STNK untuk sepeda motor Yamaha Crypton yang dikendarainya.

“Saya enggak bawa surat-surat sama sekali. Terpaksa belok ke sini. Soalnya kalau ke sana [lewat razia] jelas kena [tilang]. Biar saya tunggu razia sampai selesai,” ujarnya saat di warung itu sambil meminum jus sebelum diperiksa polisi.

Di sisi lain, pemilik warung lotis, Titik, 37, mengakui saat razia warungnya mendadak penuh pelanggan. “Memang warung sini kerap jadi pelarian orang-orang yang enggak bawa kompletan [surat-surat kendaraan]. Tadi sebelum razia hanya ada satu atau dua pembeli. Pas razia dimulai, langsung ada belasan orang di warung. Bagi saya sih berkah. Saya langsung kepayon [laku] Rp150.000,” kata dia.

Pada razia sebelumnya, dia bisa meraup Rp200.000 hanya dalam satu jam.

Tokopedia