Kreatif, Saat Kekeringan Warga Boyolali Bikin Emping Garut

Seorang warga menunjukkan hasil produksi emping garut di Desa Kunti, Andong, Selasa (28/8 - 2018) siang. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
30 Agustus 2018 15:53 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Kekeringan memberi dampak negatif untuk tanaman palawija bagi petani di Desa Kunti, Andong, Boyolali. Meski begitu, para pembuat emping garut, makanan khas desa itu, sudah bersiap memanen rezeki.

Endang Sungatini, 45, harus sudah bangun sejak pukul 03.00 WIB dini hari. Malam sebelum tidur, ibu yang juga aktif dalam pemberdayaan perempuan lewat PKK desa itu telah menyiapkan dandang untuk merebus  umbi-umbian yang dikenal oleh warga sekitar sebagai tanaman garut itu.

Tanaman garut banyak tumbuh di pekarangan rumah warga juga tegalan di Desa Kunti. Endang memulai pagi dengan merebus umbi garut selama satu jam. Setelah selesai, dia melanjutkan proses dengan mengupas kulit dan merebusnya lagi hingga melunak. Setelah itu Endang memotongnya tipis-tipis menyerupai emping. Semua proses itu harus sudah saat matahari mulai muncul.

“Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00 WIB harus sudah dijemur, kalau kesiangan nanti hasil empingnya tidak putih, jadi kekuningan dan tidak enak rasanya,” kata Endang saat ditemui wartawan Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di rumahnya di Desa Kunti, Selasa (28/8/2018) siang.

Dia butuh waktu seharian untuk menjemur emping itu. Saat matahari mulai tergelincir, emping yang ditaruh Endang di genting rumah itu siap diangkat dan dikemas. Pengemasan pun cukup sederhana. Endang menggunakan plastik bening yang ditambah dengan cap yang dicetak berwarna di selembar kertas. Endang biasa menjual empingnya dengan harga Rp50.000 per kg atau Rp13.000 untuk kemasan 250 gram. “Caranya cukup dengan media sosial, atau pesan lewat telpon, biasanya pembeli akan datang sendiri,” kata dia.

Meski dengan cara yang sederhana, emping Endang sudah menjangkau seluruh pasar Boyolali hingga ke Kota Bengawan. Beberapa tetangga yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri pun kerap membawa produksi lokal ini ke mancanegara.

Sebagai pekerjaan sampingan, Endang biasa menghasilkan dua kilo emping. Satu kilonya dihasilkan dari 8 kg garut yang dia beli dari masyarakat lokal. Selain Endang, warga lain, Sukidiyanto, 50, memiliki usaha emping yang lebih besar. Dalam sehari dia bisa menghasilkan minimal 3 kg emping. “Dengan produksi lebih besar dampaknya bisa membuka peluang pekerjaan bagi tetangga,” kata dia.

Kepala Desa Kunti, Sudarto, mengatakan dulu garut tumbuh dengan sendirinya. Namun kini warga sengaja menanamnya dengan cara pembibitan seperti menanam jagung. Biasanya garut akan ditanam di musim penghujan dan bisa dipanen saat musim kemarau. Bentuk tumbuhannya pendek dengan daun melebar layaknya tanaman jahe.

Sudarto menambahkan emping garut menjadi salah satu potensi lokal di Desa Kunti. Lewat emping, kegiatan pemberdayaan ibu-ibu desa bisa turut ditopang. “Selain kemampuan ekonomi pun meningkat,” kata dia.

Tokopedia