Simo Sendiko, Wadah Pemuda Kreatif Boyolali Bangun Identitas

Anggota komunitas Simo Sendiko berdiskusi dalam acara Kali Cemara Camp di Desa Blagung, Simo,Boyolali awal Agustus lalu (istimewa/Dokumen Simo Sendiko)
31 Agustus 2018 15:41 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Kali Cemara, di Desa Blagung, Kecamatan Simo, Boyolali kini menjadi salah satu jujugan wisatawan. Sejak dikelola oleh Karang Taruna Ristansari, Kali Cemara, disulap dengan pernak-pernik cantik penggugah swafoto. Berbagai pilihan gaya seperti berdiri di depan replika rumah dan batu warna-warni seolah memanjakan mata pengunjung.

Awal Agustus lalu, komunitas anak muda Simo, Simo Sendiko, baru saja menggelar kegiatan Saling Rasa (Saliro) keempat bertajuk Kali Cemara Camp. Selama sehari semalam, anak-anak muda yang memiliki misi memajukan daerah itu berbagi pengalaman, berpesta api unggun, bermain musik akustik, dan melakukan bakti sosial.

Simo Sendiko kini menjadi wadah gerakan sosial anak muda berbasis jaringan.  Koordinator Simo Sendiko, Danang Wahyu Arif, 25, justru memulainya dari sebuah keprihatinan. Medio 2012 lalu komunitas-komunitas sosial mulai bermunculan di kecamatan yang juga menjadi pusat pelajar Kota Susu itu. Dimulai dari Rumah Baca Tumpi di Desa Pentur cetusan Joko Narimo. Lewat Tumpi, Danang mengatakan pamor Desa Pentur mulai melejit. Banyak masyarakat dari luar daerah antusias menyambangi taman bacaan masyarakat itu.

“Tapi justru orang Simo sendiri pada enggak tahu Tumpi itu apa dan ada di mana,” ungkap Danang ketika berbincang dengan reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di Kali Cemara. Dia menambahkan, selain Tumpi tak kurang 15 gerakan komunitas lain juga mulai bermunculan tanpa membentuk sebuah jaringan.

Saat itu, Danang yang baru memutuskan pulang dari perantauannya di Solo dan Jogja mulai menghidupkan kembali perpustakaan kecamatan yang kerap kebanjiran. Bajir pelajar dan sekolah di Simo dimanfaatkan Danang dengan mengkoordinasi seluruh ketua OSIS mengurusi perpustakaan itu. Namun kemudian dia sadar bahwa yang dibutuhkan tak hanya sekadar pelajar untuk menggerakkan masyarakat.

Seolah tak kehabisan akal, Danang memutuskan untuk menyebarkan undangan kepada seluruh karang taruna se-Simo. Undangan itu ditandatangni camat dan berisi ajakan membentuk karang taruna tingkat kecamatan. “Awalnya cuma 36 orang yang datang dan kebanyakan bapak-bapak, lalu dicoba lagi sebar undangan yang kedua, akhirnya berhasil menggandeng anak-anak muda,” umbar dia sambil terkekeh.

Gerakan anak-anak muda ini sempat bergonta-ganti nama sejak 2016 lalu. Mulai dari Simo Youth Movement yang kemudian direkonstruksi menjadi Simo Bergerak dan berakhir dengan Simo Sendiko pada awal tahun ini. “Prosesnya enggak gampang, dulu sampai keliling desa dan benar-benar mengundang pengurus karang taruna yang aktif dari seluruh penjuru Simo,” kata dia.

Kata Sendiko dipilih Danang lantaran anak-anak muda Simo ingin sendiko dawuh (mematuhi) aspirasi masyarakat yang mengarah pada kebaikan. Sendiko dawuh yang identik dengan kalimat abdi dalem kepada sultan keraton juga juga menjadi prinsip Simo Sendiko. “Kami ingin sendiko dawuh pada yang kita layani, ya masyarakat,” katanya.

Simo Sendiko memiliki memiliki dua agenda rutin bulanan meliputi Salira dan arisan. Tempatnya sengaja berpindah-pindah untuk memperluas keanggotaan. Mereka juga memiliki kegiatan tak terjadwal yang lazim disebut Sedekah Skill. Kegiatan itu memfasilitasi anak-anak muda mengembangkan kemampuan yang bekerja sama dengan pihak luar seperti seminar difabel dan penyaluran bantuan bagi korban bencana alam.

Simo Sendiko juga mengelola sebuah laman simosendiko.org yang berisi informasi, peta pariwisata, dan potensi unggulan Simo. Mereka juga mengelola akun instagaram @exploresimo sebagai media promosi daerah pada generasi milenial.

Tokopedia