Menengok Kesiapan Selter Pengungsi Merapi di Klaten

Pegawai Kecamatan Karangnongko menempati ruang utama selter pengungsian Desa Demakijo, Rabu (23/5 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
31 Agustus 2018 16:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pihak-pihak terkait di wilayah rawan terdampak erupsi Merapi wilayah Klaten mulai menyiapkan selter-selter untuk pengungsi bila sewaktu-waktu diperlukan.

Salah satu persiapan yang paling krusia adalah dapur umum. Setiap selter pengungsian harus menyiapkan 2.000-an paket makanan untuk para pengungsi setiap harinya.

Makanan itu dibuat oleh satu lembaga yang bertanggung jawab di cluster dapur umum selter. Jika kurang, selter akan dibantu jejaring lembaga penanggulangan bencana yang ada.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Yuwana Haris Yuliyanta, mengatakan ada tiga selter yang siap menampung pengungsian yakni Menden, Demakijo, dan Kebondalem Lor.

Masing-masing dapur umum di tiap selter dikelola satu lembaga misalnya Selter Demakijo dikelola Palang Merah Indonesia (PMI) Klaten, Selter Menden dikelola Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah, dan Selter Kebondalem Lor dikelola Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Haris menambahkan menurut pendataan pada Juni lalu penduduk di tiga desa masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 meliputi Sidorejo, Tegalmulyo, dan Balerante, dengan total penduduk 8.865 jiwa. Dengan asumsi semua warga dievakuasi, makanan kurang mencukupi kebutuhan.

Kekurangan kebutuhan makanan itu akan dibantu jejaring masing-masing lembaga. Pembuatan makanan dipusatkan di selter dan didistribusikan ke seluruh selter dan posko di sekitarnya.

“Jadi misal PMI Klaten mampu bikin 2.000 paket, nanti kekurangannya dibantu PMI di Soloraya. Begitu pula dengan Tagana dan LPB Muhammadiyah,” kata dia, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (29/8/2018).

Ia menjelaskan selama tiga hari pertama di pengungsian, menu makanan menjadi tanggung jawab tim dapur umum. Kemudian, pada hari keempat dan seterusnya, pembuatan makanan melibatkan pengungsi dan warga setempat.

Hal itu dimaksudkan untuk membantu menghibur warga agat tidak merasa penat dan trauma akibat bencana. “Kalau ada aktivitas di dapur umum misalnya, pengungsi dan warga bisa sedikit melupakan bencana. Warga tidak terus menerus larut dalam kesedihan,” terang Haris.

Haris menyatakan sejak menurut pantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sejak 12 Agustus lalu di puncak Gunung Merapi muncul kubah lava baru. Pertumbuhan kubah lava terbilang masih rendah mengingat volumenya di bawah 20.000 meter kubik per hari.

“Ini bagian dari persiapan jika Merapi sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas. Kami di cluster dapur umum setidaknya ada koordinasi soal pemenuhan salah satu hak dasar pengungsi yakni kebutuhan makan,” ujar dia.