Petani Ikan Nila di WGM Wonogiri Rela Jual Murah, Rp24.000/Kg

Petani karamba saat melakukan tebar benih di Waduk Gajah Mungkur, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, beberapa waktu lalu. (Ichsan Kholif Rahman)
31 Agustus 2018 21:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Petani karamba ikan nila di Waduk Gajah Mungkur (WGM), Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, mengeluhkan minimnya permintaan pasar.

Berdasarkan tren setiap perayaan Iduladha, penurunan permintaan ikan nila diikuti dengan anjloknya harga ikan. Kini beberapa petani ikan nila pun rela menurunkan harga agar bisa segera menjual stok ikan miliknya.

“Pada tahun ini sejak dua pekan menjelang Iduladha sudah mulai mengalami penurunan permintaan hingga saat ini. Saya biasanya dapat menjual 15 ton per bulan saat ini hanya 10 ton, itu pun sangat beruntung,” kata Ketua Paguyuban Petani Ikan, Nila Kencana, Sugiyanto, saat ditemui Solopos.com, di Desa Sendang, Jumat (31/8/2018).

Ia tidak dapat memperkirakan kapan permintaan akan kembali normal. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya tenggang waktu untuk normal kembali berbeda-beda ada yang sepekan bahkan hingga lebih dari satu bulan.

Ia memilih menahan harga ikan nila pada harga normal yakni Rp25.000/kilogram (kg). Namun tidak menutup kemungkinan pekan depan harga akan dikoreksi. Menurutnya, saat ini sudah ada beberapa petani ikan yang menurunkan harga ikan nila menjadi Rp24.000/kilogram. Ia juga tidak bisa memaksa untuk tetap menjaga pada harga normal.

Ia yang juga bergerak pada impor pakan nila mengaku keadaan petani ikan nilai saat ini sangat sulit, terlebih harga pakan ikan mengalami kenaikan harga Rp9.000 hingga Rp15.000/sak (30 kg).

Pergantian Cuaca

“Kalau petani tidak menurunkan harga nila maka tidak bisa membeli pakan. Harga normal pakan ikan nilai adalah Rp277.000/sak, saat ini sudah naik jadi Rp286.000/sak. Rata-rata petani di sini memiliki 20 kolam, jumlah tersebut memerlukan 4 sak setiap harinya sudah hampir satu juta setiap harinya, kalau nggak segera jual ikan, bisa macet,” ujarnya.

Menurutnya, pakan mengalami kenaikan akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah. Hal ini dikarenakan bahan baku kedelai menggunakan kedelai impor.

Satu hal lagi yang menjadi kendala para petani yakni cuaca. Dalam beberapa pekan akan terjadi pergantian cuaca, hal ini menjadi kelemahan ikan menjadi gampang mati. Petani harus segera menjual ikan dalam jumlah banyak.

Petani juga berpikir dua kali untuk melakukan tebar benih, pasalnya nila yang dapat dipanen pada usia tiga sampai empat bulan tidak kuat menghadapi pergantian cuaca. Solusinya adalah menahan penebaran benih hingga musim hujan benar-benar turun.

Petani ikan nila lainnya asal Desa Sendang, Setyawan, mengatakan saat ini terjadi penurunan permintaan. Ia terpaksa menurunkan harga normal menjadi Rp24.000/kg agar pembeli dapat tertarik membeli dalam jumlah besar karena beberapa pekan lagi diprediksi akan terjadi pergantian cuaca yang membuat ikan rawan mati.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada permintaan ikan nila dalam kapasitas besar melainkan permintaan eceran.

Tokopedia