2.100 Guru Honorer Sragen Diusulkan Diangkat Jadi CPNS

Ilustrasi guru (Reuters/Brian Snyder)
01 September 2018 17:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen mengusulkan 2.100-an orang guru honorer/guru wiyata bhakti (WB) untuk diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) atau calon aparatur sipil negara (CASN) ke pemerintah pusat.

Disdikbud Sragen menaruh harapan besar bisa mendapatkan kuota untuk pengangkatan guru honorer menjadi CPNS pada 2018.

Harapan tersebut disampaikan Kepala Disdikbud Sragen, Suwardi, saat dihubungi solopos.com, Jumat (31/8/2018). Suwardi sudah membaca berita terkait persetujuan usulan pengangkatan 100.000 guru honorer menjadi CPNS dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sragen.

“Semua guru honorer yang jumlahnya 2.100-an orang itu sudah kami usulkan agar diangkat menjadi CPNS ke pemerintah pusat lewat BKPP [Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan]. Di pusat dapat kuotanya berapa belum tahu. Petunjuk teknisnya seperti apa juga belum tahu. Mungkin 100 guru, ya mudah-mudahan lebih. Selebihnya nanti diminta kebijakan kepada Pemkab Sragen,” ujarnya.

Dia menjelaskan selama ini gaji guru honorer itu diambilkan dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang nilainya variatif per sekolah. Dia tidak bisa menyampaikan nilai gaji para guru honorer itu karena nilai honornya sesuaikan dengan kemampuan sekolah.

“Ada yang gajinya Rp250.000/bulan. Ada juga yang gajinya sampai Rp1 juta per bulan. Masa baktinya juga bervariasi. Yang paling lama ya sejak 2005, tetapi juga ada yang baru,” tambahnya.

Tokoh masyarakat Kedawung, Sragen, Suyadi Kurniawan, meminta Pemkab Sragen berhati-hati dalam pengusulan jumlah guru honorer di Sragen ke pusat menyusul adanya persetujuan pengangkatan 100.000 guru honorer menjadi CPNS oleh pemerintah pusat.

“Saya minta data guru honorer itu benar-benar valid. Jangan sampai guru honorer yang teranulir tetap masuk dalam data guru honorer yang diajukan ke pusat. Persoalan kuota 100.000 guru itu tidak sesuai kebutuhan yang mencapai 700.000 guru,” tutur dia.