Asale Wukiratawu Sragen dan Misteri Gua Dasar Bengawan Solo

Tokoh spritual Gesi, Sragen, Jarwanto (dua dari kiri), menjelaskan tentang cerita situs Wukiratawu, Juli lalu. (Solopos/Tri Rahayu)
02 September 2018 17:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Bukit itu berada di pinggir Bengawan Solo, Dukuh Pereng, Desa Katelan, Tangen, Sragen. Di perairan Bengawan Solo dekat bukit itu ada kedung yang dikenal warga setempat bernama Kedung Kisi yang dalam.

Di puncak bukit itu terdapat tumpukan batu kapur yang ditata membentuk dua persegi panjang berjajar. Panjangnya mencapai 3 meter dan lebarnya hampir 1 meter. Dua tumpukan batu persegi panjang itu dikelilingi tumpukan batu seperti membentuk pagar keliling.

Lokasi tersebut dikenal dengan nama Wukiratawu. Di bagian bukit itu juga ditemukan struktur bangunan batu bata yang terpendam dalam tanah.

Seorang tokoh spritual Gesi, Sragen, Jarwanto, saat diwawancarai Solopos.com, Sabtu (1/9/2018), menjelaskan batu bata itu berukuran besar dan diduga merupakan peninggalan masa peralihan Majapahit dan Mataram.

“Tempat itu dulu dijaga tentara dari komandemen di bawah perintah Bung Karno [Soekarno]. Tentara tersebut adalah tentara eks Heiho Jepang. Tentara itu orang Sukowati yang ditugaskan belajar militer ala Jepang,” ujar Jarwanto.

Jarwanto menjelaskan nama Wukiratawu merupakan sandi pergerakan tentara dari komandemen. Wukiratawu itu nama lain sandi “Gunung Kendeng”, yakni lokasi koordinat utama yang harus dijaga.

Istilah “Gunung Kendeng” berbeda dengan Pegunungan Kendeng. Dia menyebut tiga lokasi yang dimaksud terdiri atas Gunung Banyak, Ngrombo, dan Jekawal yang semuanya berada di wilayah Kecamatan Tangen.

Di wilayah Gunung Banyak ada tiga lokasi pula yang mendapat perhatian, yakni Wukiratawu, Kedung Bulus, dan satu tempat lagi yang namanya hilang dari ingatan Jarwanto. Beberapa lokasi di Jekawal juga dijaga pada masa Orde Lama, yakni Kedung Gong, Ngrancang Kencana, dan Sendang Pengurupan.

“Gunung Kendeng” juga merupakan istilah intelijen dari Pasukan Semar Jeprak yang memiliki bukti prasasti berupa sebilah keris bernama Semar Dodok. “Keris itu dulu yang bawa simbah saya, Mangun Jas. Keris itu dipinjam teman dan entah ke mana. Belakangan diketahui keris itu disimpan Pak Radiman, orang Jakarta,” ujarnya.

Dia menjelaskan pasukan Semar Jeprak itu merupakan satu komando yang beranggotakan lima personel tetapi masing-masing anggotanya tidak saling mengenal atau mengetahui. Mereka berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa sandi.

“Setiap tiga hari sekali, bergantian petugas jaga. Teknik penjagaannya menggunakan cara nglamur laku atau menyamar sebagai penggembala kambing, pencari ikan, pencari kayu bakar, dan lainnya."

Di bawah bukit Wukiratawu terdapat kedung di dasar Bengawan Solo yang disebut Kedung Kisi. Jarwanto menyampaikan di kedung itu terdapat lorong ke dalam yang akhirnya tembus ke goa. Lorong dan goa itu membentuk leher banyak dan dipercaya tembus di Gunung Banyak yang berjarak 1 km.

“Ada simbah-simbah di Gesi, Sragen, yang pernah menyelam dan tiba di gua itu. Gua itu memiliki rongga udara karena ada orang yang bercerita pernah istirahat di dalam gua itu setelah menyelam,” katanya.

Pada 1980-1990, bukit Wukiratawu pernah digunakan sebagai tempat perguruan atau pertapaan karena lokasi itu dipercaya memiliki kekuatan gaib. Saat para pelaku spritual melakukan ritual di tempat itu siang hari, kata Jarwanto, tiba-tiba ada petir menyambar pohon jati dan beberapa orang yang ritual di situ terpental. Akhirnya perguruan itu pun bubar.

Di Wukiratawu ada dua patok. Patok tersebut diduga sebagai tanda menyimpan barang-barang milik Mbah Kadija Prawira yang dikenal sebagai orang yeng mencetak koin mata uang gulden.