Banding, Vonis Terdakwa Money Politics Wonogiri Berkurang

Sidang vonis kasus money politics di Pengadilan Negeri Wonogiri, Kamis (26/7 - 2018) siang. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
02 September 2018 09:45 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Pengadilan Tinggi Semarang menerima banding kasus politik uang (money politics)  Pilgub Jateng 2018 di Wonogiri dengan terdakwa Isbani dan A.H. Faiq Al Fathoni.

Putusan banding terhadap dua warga Dusun Jarum, Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, meringankan hukuman mereka. Sebelumnya, hakim Pengadilan Negeri (PN) Wonogiri memvonis mereka dengan hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider satu tahun penjara.

Vonis tersebut sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Wonogiri. Setelah banding, hukuman mereka menjadi satu tahun penjara dengan denda Rp200 juta subsider satu bulan penjara.

Penasihat hukum A.H. Faiq Al Fathoni, Surisman, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (1/9/2018) mengatakan akan mengkaji dan mempertimbangkan langkah selanjutnya pada beberapa hari ke depan. Kliennya masih mempertimbangkan untuk mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

“Pengadilan Tinggi Provinsi Jawa Tengah telah memutuskan perkara tersebut pada pertengahan bulan Agustus lalu. Putusan ini masih belum mencerminkan keadilan. Klien saya layak dibebaskan dari segala tuntutan karena mereka hanya mewakili para pemberi dana. ” ujar Surisman.

Menurutnya, A.H. Faiq Al Fathoni hanya menyalurkan zakat mal dan menerima zakat mewakili cucunya yang anak yatim. Ia tak menyangka pembagian zakat itu menjadi kasus dugaan politik uang.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa Isbani, M. Aminudin, juga belum puas dengan putusan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah. Ia menilai Isbani merupakan korban dan layak dibebaskan dari segala tuntutan.

“Klien kami hanya korban sedangkan pemberi dananya malah tidak jelas statusnya,” ujarnya.

Pengadilan menetapkan barang bukti antara lain berupa satu lembar amplop warna putih dengan bertuliskan BParsi dengan isinya uang tunai Rp50.000 dan satu lembar amplop berwarna putih bertuliskan BTumijem dengan isi berupa uang tunai Rp50.000.

Selain itu, ada dua kaus oblong berwarna putih dengan tulisan coblos kerudungnya dan bergambar salah satu pasangan calon dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Kemudian juga dua lembar kertas catatan calon penerima zakat mal dan satu ponsel yang digunakan dalam perkara A.H. Faiq Al Fathoni.

Dua terdakwa ini dilaporkan melakukan politik uang beberapa hari menjelang pencoblosan Pilgub 2018 pada Juni lalu. Saat itu keduanya menjadi panitia pembagian zakat mal dari seorang pengusaha. Sementara pemberi dana, yaitu Anding Sukiman, sampai saat ini belum jelas status hukumnya dalam kasus ini.

Tokopedia