Seratusan Batu Nisan Mendadak Muncul ke Permukaan WGM Wonogiri

Permakaman yang muncul ketika musim kemarau di Dusun Wotan, Desa Boto, Baturetno, Wonogiri. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
02 September 2018 13:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Tepat di pinggiran Waduk Gajah Mungkur (WGM), Dusun Wotan, Desa Boto, Kecamatan Baturetno, Wonogiri, seratusan batu nisan berwarna putih berserakan.

Ada yang terbalik sehingga terlihat lubang persegi panjang pada bagian bawah batu, ada pula yang saling bertumpuk. Ukurannya pun tak seragam, ada ukuran batu nisan untuk orang dewasa, ada pula yang lebih kecil.

Batu-batu nisan itu berada di salah satu bukit yang dikelilingi area persawahan dengan tanah basah. Di tanah terlihat liang-liang berbentuk persegi panjang tempat batu nisan itu berada.

Permakaman itu baru muncul satu bulan lalu. Bukan hal aneh bagi warga sekitar karena setiap musim kemarau permakaman tersebut akan muncul seiring elevasi air WGM yang berkurang. Ketika musim penghujan tiba, seratusan makam itu akan tenggelam lagi ditelan air waduk seluas 8.800 hektare itu.

Tanah di permakaman itu dalam kondisi yang basah sehingga perlu kewaspadaan agar tak terpeleset saat berjalan di atasnya. Tepat di pinggir permakaman percikan ombak saling bergantian menghantam batu nisan yang setengahnya masih berada di dalam air.

Sisa-sisa kulit kerang hingga bangkai ikan berceceran di tanah permakaman itu. Sisa-sisa tulang belulang manusia juga tampak muncul ke permukaan.

Suasana sangat tenang yang terdengar hanya suara percikan dan suara dedaunan yang diempas angin. Hamparan rumput hijau dan berbagai jenis burung yang terbang rendah di sawah menambah keindahan lokasi itu.

Tak tampak aktivitas warga di kompleks pemakaman itu. Hanya ada dua petani yang berjarak satu kilometer dari permakaman.

Deretan pegunungan dan pemandangan air waduk memanjakan mata setiap orang yang berkunjung ke pinggiran Desa Boto itu, terlebih menjelang sore.

Munculnya tanah permakaman ke permukaan saat musim kemarau di WGM menjadi momen bagi warga untuk berziarah ke makam pendahulu mereka. Mereka tak hanya warga setempat tapi juga warga yang dulu bedol desa ke Sumatra atau wilayah lain saat WGM dibangun sekitar 1976 lalu.

“Setiap musim kemarau akan tampak seratusan makam itu. Mungkin dahulu belum sempat dipindahkan ke desa sebelah seperti makam-makam yang lainnya. Beberapa kali keluarga mereka datang dari jauh untuk berziarah,” ujar Supri, warga desa setempat, saat ditemui Solopos.com di lokasi Sabtu (1/9/2018) sore.

Makam itu bisa dicapai melalui berbatu yang hanya cukup untuk kendaraan roda dua sejauh 3 kilometer dengan sesekali melewati jalan setapak. Setelah sampai di hamparan sawah, perjalanan menuju makam dilanjutkan dengan jalan kaki melewati tanah berlumpur melewati sawah garapan warga setempat.

Tokopedia