Debit Air Dam Colo Ditambah Jadi 18 M3 Jelang Ditutup 1 Oktober 2018

Dam Colo di Nguter Sukoharjo. (Solopos/Trianto Hery Suryono)
03 September 2018 17:05 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Debit air Dam Colo di Sukoharjo ditambah dari 12 meter kubik per detik menjadi 18 meter kubik per detik. Langkah ini dilakukan agar pasokan air ke saluran irigasi pertanian maksimal menjelang penutupan Dam Colo pada awal Oktober 2018 mendatang.

Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Colo Timur, Sarjanto, mengatakan penambahan debit air Dam Colo berdasar hasil sidang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air (TKPSDA) Jateng dan Jatim pada akhir Agustus lalu.

Debit air Colo Timur ditambah dari 12 meter kubik per detik menjadi 18 meter kubik per detik selama lebih dua pekan hingga pertengahan September.

“Penambahan debit air dilakukan untuk menyelamatkan tanaman padi yang tengah berbunga atau mrekatak di wilayah Sragen. Lahan pertanian di Sragen yang harus dipasok air seluas 8.000 hektare-9.000 hektare,” kata dia, saat berbincang dengan solopos.com, Minggu (2/9/2018).

Pria yang akrab disapa Jigong itu menjelaskan Dam Colo bakal ditutup pada 1 Oktober selama sebulan untuk kegiatan pemeliharaan bangunan. Tidak ada penundaan penutupan Dam Colo seperti pada 2017. Kala itu, penutupan Dam Colo diundur selama tiga hari dari 1 Oktober menjadi 3 Oktober.

Hal ini dilakukan setelah mempertimbangkan aspirasi para petani yang meminta penundaan penutupan Dam Colo lantaran ribuan hectare lahan pertanian membutuhkan suplai air. “Tidak ada penundaan penutupan Dam Colo. Dam Colo tetap ditutup pada 1 Oktober selama sebulan,” ujar dia.

Menurut Jigong, total luas lahan pertanian di sepanjang saluran Colo Timur lebih dari 20.000 hektare. Sementara saluran Colo Barat mengairi lahan pertanian di wilayah Sukoharjo, Wonogiri dan Klaten dengan luas lahan pertanian sekitar 5.000 hektare.

Jigong meminta para petani tidak boros dalam memanfaatkan suplai air bersih ke lahan pertanian saat musim kemarau. “Di Sukoharjo, tak ada masalah [pasokan air ke lahan pertanian]. Para petani mengoptimalkan mesin pompa air untuk mengairi areal persawahan,” papar dia.

Lebih jauh, Jigong menambahkan bakal berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta I Wilayah Sungai Bengawan Solo ihwal rencana penutupan Dam Colo. Hal itu telah disosialisasikan kepada para petani yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Jamu.  

Sementara itu, seorang petani asal Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kardiman, mengatakan kalangan petani sejatinya tak memersalahkan rencana penutupan Dam Colo pada 1 Oktober. Penutupan Dam Colo merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Kala itu, para petani memilih mengandalkan suplai air ke areal persawahan dari mesin pompa air.

Namun, sebagian besar tanaman padi berumur dua bulan sehingga membutuhkan pasokan air. Apabila Dam Colo ditutup otomatis tak ada pasokan air ke lahan pertanian.

“Tanaman padi berumur  dua bulan sangat butuh suplai air lantaran fase generatif atau pertumbuhan. Suplai air diperlukan juga saat fase pengisian bulir padi,” kata dia.