Kebakaran Sragen: Hanya Ada 1 Hidran untuk 20 Kecamatan

Kebakaran rumah di Dukuh Canden RT 007 Desa Ketro, Tanon, Sragen, Senin (6/8 - 2018) malam. (Istimewa/Kades Ketro)
03 September 2018 13:15 WIB Kurniawan Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Jumlah hidran sebagai instalasi penyedia air untuk pemadaman kebakaran di Kabupaten Sragen sangat minim. Padahal potensi kebakaran sangat tinggi terutama di musim kemarau.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Minggu (2/9/2018), Sragen yang terdiri atas 20 kecamatan hanya punya satu hidran. Hidran tersebut berada di depan SMPN 2 Sragen atau sebelah timur Kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen.

Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen, Sunardi, mengonfirmasi data itu. Dia mengakui jumlah hidran di Sragen masih sangat jauh dari harapan.

Kondisi tersebut membuat tim damkar harus hilir mudik ke hidran untuk mengambil air saat terjadi kebakaran dan di sekitar TKP minim sumber air.

Tim Damkar Satpol PP Sragen sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR Sragen ihwal rencana pembuatan hidran di Kecamatan Gemolong tahun ini. Rencananya satu hidran tersebut akan ditempatkan di sekitar Pasar Gemolong.

“Ketersediaan hidran menjadi salah satu kendala dalam penanganan musibah kebakaran. Hanya tersedia satu hidran di depan SMPN 2 Sragen. Dengan kondisi itu kami pakai pola armada penyuplai,” tutur dia.

Sunardi menjelaskan idealnya ada masing-masing satu hidran di empat eks kawedanan. Dengan begitu tim damkar tidak perlu repot-repot hilir mudik dari lokasi kebakaran ke satu-satunya hidran di wilayah Sragen kota.

“Dengan luas wilayah Sragen yang mencapai 20 kecamatan, mestinya tersedia sedikitnya satu hidran di tiap eks kawedanan. Kita ketahui ada empat eks kawedanan di Sragen, yaitu Gemolong, Gondang, Tangen, dan Sragen,” ujar dia.

Sunardi menerangkan keberadaan hidran sangat penting dalam upaya pemadaman kebakaran saat musim kemarau di mana sumber-sumber air seperti sungai dan sumur warga mengering atau kekurangan air.

Bila di sekitar lokasi kebakaran tidak ada sumber air, tim damkar harus mengambil air di lokasi yang sangat jauh. Bila itu terjadi, api yang berkobar membakar bangunan akan kian membesar karena tidak cepat tertangani.

“Demi efektivitas dan efisiensi waktu penanganan ya perlu penambahan jumlah hidran. Kalau bisa dibuat di tiap eks kawedanan. Secara bertahap ditambah agar memudahkan tim mendapatkan air saat kebakaran,” kata dia.

Terpisah, eks Kasi Trantib Kecamatan Kalijambe, Agus Subagyo, mendukung opsi penambahan kekuatan tim damkar Sragen. Penambahan kekuatan tersebut bisa dilakukan dengan menambah personel dan armada.

Menurut dia, setidaknya mesti ada satu unit armada dan tim damkar yang ditempatkan di masing-masing pusat eks kawedanan. Agus juga menilai perlunya penambahan secara bertahap instalasi hidran sebagai sumber air tim.