Kedai Kata di Boyolali Punya Tagline Dolan, Rasan-Rasan, Jajan

Suasana diskusi anak/anak muda di Kedai Kata saban malam hari (istimewa/Dok Kedai Kata)
03 September 2018 18:26 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Hobi menulis, nongkrong, dan mendengarkan curhat teman membuat Tory Nugroho Bicaksono, 28, memiliki cara sendiri dalam membentuk komunitas. Laki-laki berperawakan kurus itu sambil terkekeh mengatakan bahwa sebagian besar anak muda pasti memiliki hobi serupa dirinya. “Dari sana saya bikin Kedai Kata, antara kepepet pekerjaan sama cari tempat nongkrong buat diri sendiri hehehe,” ungkap Tory ketika berbincang dengan reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni, belum lama ini di kawasan Laweyan, Solo.

Berbekal kios milik seorang kerabat di Jalan Nogosari-Mangu, Nogosari, Boyolali, dia menyulap ruangan berukuran 4 meter x 7 meter ini menjadi kafe baca. Sebuah rak buku empat kotak tampak menggantung di salah satu sudut dinding. Berbagai genre buku milik pribadi dan sumbangan kerabat berjajar di sana. Tumpuk buku lain sengaja dia letakkan pada kursi bermodel tong memberi kesan sebagai ruang baca.

Pada bagian dinding, mural bergambar buku dan pena beserta tulisan Kedai Kata sengaja dipilih menegaskan konsep yang utama sebagai ruang baca. Buku-buku itu kini jumlahnya mencapai 70 buah. Kedai Kata menyediakan aneka makanan dan minuman khas tongkrongan anak muda seperti squash, soda, dan kentang goreng. Harganya dibanderol mulai Rp5.000 sampai Rp12.000.

Merintis usaha sejak Februari 2017, Tory melihat minat baca masyarakat pinggiran tak sesuai dengan yang dia pikirkan. Menjadi kafe baca pertama di Nogosari, Tory nyatanya harus bekerja keras menarik lebih banyak pengunjung. Cara alternatif dilakukan Tory dengan menempelkan kesan-pesan lewat kertas tempel. Di awal kafe ini berdiri, kertas tempel itu memenuhi salah satu sudut dinding. “Akhirnya saya bikin tagline baru, dolan, rasan-rasan, jajan,” kata dia.

Lewat tagline itu Tory ingin menjadikan Kedai Kata sebagai tempat berkumpul sekaligus rasan-rasan berfaedah bagi anak-anak muda Nogosari. “Sebab harga makanan terbilang tinggi jika dibandingkan warung di sekitarnya, jadi kami prioritaskan dolan dan rasan-rasan, enggak beli pun enggak masalah,” katanya. Tory membuka kedainya mulai sore sekitar pukul 17.00 WIB hingga malam.

Awal Maret lalu, konsep rasan-rasan berfaedah pertama kali dilakukan oleh Tory lewat Kedai Kata. Dia mengundang pengusaha kondang Agung BH yang bercerita soal seluk-beluk usahanya di bidang pakaian dalam. “Lebih ke berbagi pengalaman tentang apa saja, agar obrolannya mengarah pada hal yang bermanfaat,” kata dia.

Lambat-laun komunitas anak-anak muda Nogosari mulai terbentuk lewat Kedai Kata. Puncaknya, pertengahan April lalu, Tory menginisiasi pembentukan Komunitas Bocah Asli Nogosari. Komunitas yang lebih dikenal dengan nama Balog ini menjadi wadah kreativitas muda-mudi Kecamatan Nogosari, tempat berbagi informasi sekaligus inspirasi. Mei lalu, Balog sempat menggelar lomba fotografi se-Kecamatan Nogosari. Mengambil tema Potensi Nogosari, muda-mudi Balog ingin memperkenalkan daerah mereka yang dimulai dari jagat media sosial, Instagram.