Jika Status Merapi Siaga, Warga di Daerah Ini Harus Segera Dievakuasi

Kondisi Kali Woro yang berhulu di Gunung Merapi selama ini dimanfaatkan warga untuk menambang pasir dan batu. Foto diambil dari Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (3/9/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
03 September 2018 20:05 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Evakuasi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi dilakukan setelah status Merapi masuk level siaga. Sementara, proses evakuasi melewati jalur yang sudah disepakati.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan ketentuan warga harus evakuasi tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Klaten No 7/2014 tentang Penanganan Bencana.

Yang jelas mendasarkan pada perbup ketika Merapi berstatus siaga, masyarakat sudah harus turun [mengungsi]. Tidak harus menunggu status awas baru mengungsi,” kata Haris saat ditemui wartawan di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (3/9/2018).

Instruksi mengungsi ketika level siaga terutama untuk warga yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III. Di Klaten, KRB III berada di tiga desa terdekat dengan puncak merapi yakni Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. KRB III adalah kawasan yang letaknya dekat dengan sumber bahaya yang sering terlanda awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Haris menambahkan selain mengevakuasi warga ketika memasuki level siaga, evakuasi juga dilakukan terhadap hewan ternak. Ternak menjadi salah satu aset kebanyakan warga di tiga desa tersebut.

Titik pengungsian yang sudah disiapkan menampung warga lereng Merapi yakni Selter Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan untuk pengungsi yang berasal dari Balerante. Selter Menden, Kecamatan Kebonarum untuk pengungsi Sidorejo, serta Selter Demakijo, Kecamatan Karangnongko disiapkan untuk pengungsi dari Tegalmulyo. Selain selter, juga ada desa penerima dalam konsep desa paseduluran menjadi titik pengungsian.

Status Merapi hingga kini masuk level waspada dari sebelumnya normal. Belakangan aktivitas Merapi memunculkan kubah lava baru yang menandai fase erupsi magmatik yang mengarah efusif.

Sementara itu, BPBD Klaten bersama TNI, polri, DPUPR, Satpol PP, serta unsur sukarelawan seperti SAR, Tagana, dan Rapi menyurvei jalur evakuasi, tiga desa terdekat puncak Merapi, serta selter pengungsian. Pengecekan dilakukan tiga pekan terakhir.

Survei untuk menyamakan persepsi terkait pola evakuasi. Haris mengatakan ada perubahan pola evakuasi dari sebelumnya dipahami dengan masyarakat bersifat pasif. Kini, pola evakuasi berubah dengan masyarakat bersifat aktif melakukan evakuasi mandiri sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang sudah dibikin.

Setelah survei ini kami akan bersama-sama melakukan sinkronisasi mengundang perwakilan tiga desa terdekat Merapi dengan tiga desa selter berada. Pertemuan itu untuk mendiskusikan jalur evakuasi, titik koordinasi pengamanan di jalan hingga titik keluar desa, serta komunikasi agar tidak terjadi chaos ketika harus mengungsi,” jelas dia.

Haris menerangkan dari survei di ketiga desa tersebut jalur evakuasi Desa Tegalmulyo hingga Selter Demakijo rusak parah. Lantaran hal itu, masyarakat beserta sukarelawan di Tegalmulyo menyusun jalur evakuasi lain yang dinilai lebih memudahkan mereka menuju selter pengungsian. “Untuk jalur evakuasi dari titik teratas sampai ke pengungsian di Desa Sidorejo dan Balerante relatif tidak masalah,” urai dia.

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Jainu, menjelaskan ada lima dukuh di Balerante yang masuk KRB III yakni Dukuh Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang, Sukorejo, serta Banjarsari. Di lima dukuh itu terdapat 666 jiwa dengan jumlah ternak 398 sapi. Dukuh teratas berada di Sambungrejo yang berjarak sekitar 4,7 km dari puncak Merapi.

Selama ini warga masih beraktivitas normal. Ronda malam juga terus digulirkan warga di setiap RT untuk bergantian memantau kondisi Merapi. “Radio komunikasi berupa handy talky di setiap lokasi itu ada untuk komunikasi serta memantau seismograf Merapi. Ketika bergelombang, artinya ada aktivitas di Merapi,” jelas dia.

Jainu mengatakan selama ini sosialisasi juga terus dilakukan ke warga agar tetap tenang dan waspada. Sosialisasi itu salah satunya menginformasikan perkembangan terakhir kubah lava yang secara berkala dirilis dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi.

Untuk jalur evakuasi di Balerante cukup aman. Kami tidak melewati jalur perbatasan melainkan jalur evakuasi melewati wilayah Desa Panggang-Bawukan kemudian masuk Kepurun, Manisrenggo. Salah satu ruas jalan Panggang-Bawukan sudah diaspal,” kata dia.

Tokopedia