3 Kebakaran Lahan Terjadi di Wonogiri dalam Sehari

ilustrasi kebakaran. (Solopos/Whisnu Paksa)
03 September 2018 17:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Tiga kebakaran lahan terjadi dalam sehari di Kabupaten Wonogiri, Minggu (2/9/2018). Tiga lahan tersebut masing-masing di Desa Jendi dan Desa Gemantar, Kecamatan Selogiri, serta Desa Sempukerep, Kecamatan Sidoharjo.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Senin (3/9/2018), mengatakan di Gunung Kawuk, Desa Gemantar, api membakar lahan hutan rakyat dengan tanaman jati tegakan.

Peristiwa yang terjadi pada pukul 10.00 WIB itu mengakibatkan kerugian berupa puluhan jati tegakan yang terbakar senilai Rp4,5juta.

Selang dua jam kemudian lahan milik rakyat di Dusun Geran, Desa Jendi, terbakar seluas 3 hektare. Lahan itu berupa semak-semak dengan puluhan pohon jati tegakan. Akibat kebakaran tersebut kerugian tercatat mencapai Rp5 juta.

Api dapat dipadamkan oleh tim reaksi cepat BPBD dan masyarakat pada pukul 17.00 WIB. Selain itu, pada pukul 13.00 terjadi kebakaran di Gunung Kelir, Desa Sempukerep, Kecamatan Sidoharjo.

Luas lahan yang terbakar sekitar 10 hektare berupa semak belukar. Upaya pemadaman dilakukan oleh warga, tim reaksi cepat BPBD, dibantu sukarelawan. Lahan berada pada kemiringan tanah sehingga dikhawatirkan setelah kebakaran berpotensi longsor.

“Tumbuhan sebagai pengikat tanah dan sarana pengikat air kalau tumbuhan sudah terbakar alat pengikat itu tidak ada. Selain itu, kebakaran lahan akan menimbulkan rekahan tanah. Pada tingkat kemiringan tertentu pada musim hujan air akan masuk ke dalam rekahan yang dapat memicu longsor,” ujar Bambang Haryanto.

Ia mengimbau warga sesegera mungkin menutup rekahan atau memindahkan aliran air agar rekahan tidak menerima seluruh aliran air. Proses mitigasi dengan penghijauan atau penanaman tumbuhan kembali juga diperlukan sebagai pengikat air.

Menurutnya, hampir setiap tahun terjadi sebuah kebakaran dipicu oleh perilaku manusia dan sangat jarang ditemukan kebakaran yang disebabkan faktor alam. Ia menyayangkan budaya atau anggapan masyarakat yang menganggap dengan membakar dedaunan di bawah atau di sekitar pohon tegakan akan membuat pohon menjadi subur.

Perilaku tersebut tidak tepat dan justru berbahaya pada musim kemarau seperti saat ini. Perilaku membakar lahan justru merusak unsur hara dan ekosistem tanah. Rantai makanan dapat terganggu seperti dengan matinya hewan dalam tanah seperti cacing.

Diperlukan jangka waktu yang cukup lama untuk mengembalikan lahan seperti sedia kala. Camat Selogiri, Sigit Purwanto, juga menyayangkan terjadinya kebakaran tersebut.

Dia berencana meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat bersama lembaga desa dan BPBD untuk menanggulangi hal serupa terjadi di wilayahnya.