Pengging Fair Digelar Kali Terakhir di Depan Pasar Candi Boyolali

Salah satu kelompok seni budaya unjuk kebolehan di depan panggung utama gelaran Pengging Fair, Sabtu (1/9 - 2018) di depan Pasar Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
04 September 2018 15:02 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Sebanyak 16 kelompok seni dan budaya asal Boyolali unjuk kebolehan pada Pengging Fair di depan Pasar Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Sabtu (1/9/2018). Sementara itu, Pengging Fair tahun ini adalah kali terakhir digelar di depan pasar yang juga disebut Pasar Candi tersebut.

Kelompok seni itu secara berurutan memeragakan kebolehan masing-masing antara lain reog, topeng ireng , drum blek, tarian tradisional, gambang pring, dan sebagainya. Sebelumnya tampil, mereka terlebih dahulu mengikuti kirab di jalan utama Pengging yang dimulai sejak Kantor Kecamatan Banyudono hingga panggung utama di depan pasar. Warga antusias menyambut acara tahunan tersebut. Mereka memadati jalan dan kompleks pasar untuk menyaksikan atraksi yang dimainkan para seniman lokal itu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pengging Fair 2018 juga digelar bazar. Kali ini bazar diikuti 390 pedagang yang menawarkan aneka produk, mulai dari makanan hingga home industry. Selain itu, Pengging Fair yang hanya berlangsung sehari semalam ini semakin meriah dengan didirikannya lima panggung musik yang menampilkan genre berbeda, plus satu panggung untuk pergelaran wayang kulit.

Ketua panitia acara, Fernando Cahyo mengatakan Pengging Fair 2018 bertepatan dengan ulang tahun emas atau kali ke-50 penyelenggaraannya. “Kegiatan ini merupakan ajang promosi wisata, di mana Pengging menjadi salah satu pusat keagamaan, kesenian, kebudayaan, serta pusat kuliner. Dan Pengging Fair kali ini adalah diselenggarakan pada tahun emas karena bertepatan dengan usianya yang sudah menginjak angka 50,” ujar Cahyo dalam sambutannya.

Pengging Fair yang sudah berlangsung sejak 1968 itu, tahun ini merupakan gelaran terakhir di depan Pasar Pengging. Kemungkinan tahun depan pasar tersebut sudah dirobohkan menyusul direlokasinya pasar ke lokasi baru di kawasan cagar budaya Pipo, 750 meter arah timur pasar saat ini.

Ketua Muda-Mudi Pengging, Totok Sudaryanto, mengatakan meskipun tidak lagi digelar di depan pasar, kegiatan yang sudah mentradisi itu akan tetap diadakan di kawasan itu. “Tahun ini adalah Pengging Fair terakhir di depan pasar ini karena pasar akan direlokasi ke tempat baru. Tapi kegiatan ini tetap akan ada di sini meskipun dengan pemandangan baru,” ujarnya.

Seperti diketahui, Pasar Pengging akan dibuat menjadi ruang terbuka untuk mendukung pengembangan pariwisata di kawasan tersebut. Terkait hal ini, Totok mengharapkan Pemkab Boyolali menyediakan panggung khusus untuk Pengging Fair maupun acara lain. Sehingga warga masyarakat bisa berekspresi dalam berkesesian.

Sementara itu, Ketua DPRD S. Paryanto mengatakan sejak 2016 Pengging Fair sudah didanai APBD. Sebelumnya, penyelenggaraan acara tersebut didanai para donatur. Berturut-turut sejak 2016 Pengging Fair digelontor anggaran Rp100 Juta, Rp150 juta, dan Rp200 juta.

“Kami tidak ingin panitia ngamen lagi untuk cari dana untuk membiayai Pengging Fair. Makanya sejak 2016 kami anggrakan melalui APBD. Tahun depan masih akan kami anggarkan melalui APBD untuk mendukung pengembangan wisata di sini,” kata dia.