Sedimentasi WGM Wonogiri Setara dengan 265.000 Truk/Tahun

Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan tanggul pemisah dan pelimpah di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Selasa (4/9/2018). (Solopos - Rudi Hartono)
04 September 2018 22:05 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Pulau-pulau kecil muncul di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri. Pada musim kemarau seperti awal September ini pulau tersebut sangat jelas terlihat, karena air surut. 

Menurut pemerhati lingkungan asal Wonogiri, Konfrontadi Febianto, Selasa (4/9/2019), pulau-pulau di WGM tersebut terbentuk dari akumulasi sedimentasi yang terus terjadi sejak waduk dioperasikan 1982 hingga sekarang. 

Dia menyebut apabila sedimentasi tak tertangani, WGM bisa menjadi daratan sebelum masa gunanya habis. WGM diproyeksikan memiliki masa guna hingga mencapai 100 tahun sejak waduk dioperasikan.

“Kalau WGM menjadi daratan bisa mengancam kehidupan. Sebab, waduk ini menjadi sumber kehidupan masyarakat, tak hanya Wonogiri tapi bagi masyarakat daerah lain yang dilintasi Sungai Bengawan Solo, seperti Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Sragen, Ngawi [Jawa Timur], dan sebagainya [Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik],” kata Konfrontadi, saat berbincang dengan Solopos.com, di Bulusulur, Kecamatan Wonogiri.

Selain untuk irigasi melalui Sungai Bengawan Solo, lanjut dia, WGM menjadi pengendali banjir. Informasi yang dihimpun Solopos.com, pemanfaatan air Sungai Bengawan Solo terbesar untuk pertanian, yakni mencapai 91%.

Selebihnya untuk keperluan pemenuhan kebutuhan air bersih 2,6%, dan industri 2%. Tak bisa dibayangkan jika WGM tak lagi berfungsi maksimal.

Kabid Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Heriantono Waluyadi, mewakili Kepala BBWSBS, Charisal Akdian Manu, tak memungkiri sedimentasi di WGM sangat besar.

Berdasar kajian lembaga Japan Internastional Cooperation Agency (JICA), laju sedimentasi WGM rata-rata 3 juta m3/tahun atau setara dengan lebih kurang 265.000 truk dengan kapasitas bak 12 m3.

Sedimen berasal dari enam sungai, meliputi Keduang, Wiroko, Alang, Ngunggahan, Temon, dan hulu Bengawan Solo. Sungai Keduang penyumbang sedimen terbesar, yakni mencapai 600.000 m3/tahun. Sungai yang melintasi sembilan kecamatan di Wonogiri itu langsung bermuara ke WGM. 

“Sedimen berasal dari runtuhan tebing sungai, lumpur lereng gunung, dan sebagainya,” kata Heriantono.

Sungai Keduang

Data dari buku berjudul Ekspedisi Bengawan Solo, Laporan Jurnalistik Kompas: Kehancuran Peradaban Sungai Besar, yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas 2008 menyebutkan berdasar kajian JICA, sumber sedimentasi WGM berasal dari erosi tanah permukaan lahan, jurang, longsoran atau kegagalan lereng, tebing sungai, dan erosi badan jalan.

Sebanyak 71 jurang dan 25 lokasi berpotensi longsor terdapat di wilayah tangkapan air WGM. Sedimen dari jurang yang masuk ke WGM diperkirakan mencapai 52.000 m3/tahun, sedangkan dari longsoran lebih kurang 10.000 m3/tahun.

Sedimen dari tebing sungai mencapai 88.940 m3/tahun. Sementara sedimen dari sisi tebing jalan tercatat 7.300 m3/tahun. Sedimen terbesar disumbangkan Sungai Keduang, yakni mencapai 1,218 juta m3/tahun.

Heriantono menuturkan pendangkalan tersebut membuat daya tampung efektif WGM menyusut mencapai 65 juta m3 selama waduk dioperasikan sejak 34 tahun silam.

Awal dioperasikan WGM memiliki daya tampung efektif 440 juta m3, sekarang menjadi 375 juta m3. Pada sisi lain 66 tahun lagi WGM sudah mencapai usia pakai maksimal.