SIPA 2018 Promosi Dari Kafe Ke Kafe Di Solo 

Penari Widya Ayu (tengah) mempresentasikan karya Hujan di Bulan Juni dalam SIPA Goes to Cafe di Waroeng Kroepoek Solo, Selasa (4/9 - 2018) malam. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
05 September 2018 11:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Solo International Performing Art (SIPA) 2018 akan berlangsung Kamis (6/9/2018) hingga Sabtu (8/9/2018) di Benteng Vastenburg Solo. 

Menjelang penyelenggaraan acara tersebut, seniman yang akan tampil di ajang SIPA 2018 menyambangi kafe-kafe sebagai media promosi. SIPA Goes to Cafe ini diadakan dua hari mulai Selasa (4/9/2018) dan Rabu (5/9/2018) di tiga kafe berbeda di Kota Bengawan.

Di tahun ke-10 ini SIPA 2018 menawarkan pergelaran yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bila tahun lalu, SIPA hanya digelar tiga hari, tahun ini SIPA digelar lima hari termasuk SIPA Goes to Café dan SIPA Goes to Campus.

Menghadirkan talent Widya Ayu, 31, SIPA Goes to Café dimulai di Waroeng Kroepoek, Serengan, pada Selasa malam. Widya yang merupakan alumnus Seni Tari Institut Seni Indonesia Solo ini menampilkan tarian Hujan di Bulan Juni

Sebelumnya, Widya pernah terlibat di beberapa pementasan seperti Tidak Sekedar Tari 2016 di Solo dan Festival Seni Jawa Tengah 2017 di Kota Bengawan.

Hujan di Bulan Juni berangkat dari karya puisi yang dianggap Widya menjadi refleksi pelajaran hidupnya. Dia kemudian menerjemahkan puisi itu melalui bahasa tubuh. Tarian ini bercerita tentang perasaan manusia saat menjalani keseharian bersama manusia lain. 

“Kadang ada rasa bahagia, tersenyum, ada rasa senang, dan lainnya,” tutur Widya seusai mementaskan tarinya.

Apalagi tarian ini juga menyinggung perkara emansipasi yang banyak digaungkan perempuan. Dia beranggapan hubungan laki-laki dan perempuan harus memiliki keseimbangan namun tidak menyangkal terjadinya konflik.

Widya mengumpamakan Juni sebagai bulan yang kering. “Karena pada bulan ini yang dinanti hanyalah hujan. Akulah bulan Juni itu dan engkaulah hujan yang kurindu,” kata dia.

Emansipasi yang diusung Widya kemudian berkembang melalui serangan publik. Dia sengaja menjadikan tempat-tempat umum sebagai panggung. Latihan digelar dengan lebih terbuka sehingga bisa disaksikan publik.      

Selain Widya, penari Tutut Tuty juga menampilkan karya Menepi Sepi dengan menggandeng musisi Sigit Pratama. Menepi sepi yang berkisah tentang menyingkir dari kerumunan ini ditampilkan di Diamond Café, Selasa (4/9/2018) malam.