Kendala Ini Hambat Pengembangan Wisata Sungai Solo

Pekerja menggunakan ekskavator mengangkut campuran semen saat membangun talut Kali Pepe di Gandekan, Jebres, Solo, Selasa (4/9 - 2018). (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
05 September 2018 21:25 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pengembangan wisata sungai di Kota Solo dinilai masih terhambat dengan persoalan kualitas air sungai yang buruk dan debit air sungai yang inkonsisten.

Pegiat Komunitas Ngrekso Lepen Mangku Keprabon, Setyo Eko Winanto, menganggap kualitas air di semua sungai di Solo sangat memprihatinkan. Secara kasat mata, kata dia, kondisi air sungai di Kota Bengawan terlihat kumuh dan bahkan beberapa di antaranya berwarna-warni karena tercemar limbah tekstil.

Win, sapaan akrab Setyo Eko Winanto menilai pemerintah mesti menyelesaikan persoalan tersebut jika ingin mengambil langkah mengembangkan wisata sungai di Solo.

Dia menyarankan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk tegas menutup usaha tekstil yang kedapatan membuang limbah tak seusai baku mutu di sungai. Pemkot diharapkan juga menata bangunan warga yang berdiri di garis sempadan sungai.

“Kegiatan bersih-bersih kali yang selama ini kerap dilakukan Pemkot tidaklah cukup untuk menyelesaikan akar masalah kumuhnya dan tercemarnya sungai. Mesti ada regulasi khusus yang mengatur tentang kewajiban masyarakat maupun pemerintah untuk menjaga ekosistem sungai,” kata Win saat diwawancarai solopos.com, Rabu (5/9/2018).

Win menganggap pengembangan wisata sungai di Solo juga akan menghadapi tantangan debit air yang tidak konsisten. Menurut dia, kebanyakan debit air sungai di kota Solo tergantung dengan pasokan air dari hulu seperti daerah Boyolali.

Win menyampaikan saat musim penghujan, debit air sungai di Solo bisa jadi akan aman untuk kegiatan wisata seperti penyediaan wahana perahu di aliran Kali Pepe maupun Sungai Bengawan Solo. Namun ketika musim kemarau datang, kegiatan wisata sungai di Solo hanya bisa dilakukan di wilayah bantaran.

“Kalau musim penghujan debit air sungai aman karena pasokan dari hulu juga cukup. Yang perlu dilakukan pemerintah atau pengelola yakni tinggal memainkan bendung Tirtonadi untuk pengelolaan debit air di Kali Pepe. Sementara debit air di Sungai Bengawan Solo cenderung aman setiap kali datang musim penghujan,” jelas Win.

Konsultan Supervisi Proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3, Mohammad Abdullah, menyampaikan rencana program dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) yakni akan membuat Kali Pepe hilir terus tersedia air meski memasuki musim kemarau.

BBWSBS bakal melakukan itu dengan mengoptimalkan pemanfaatan Bendung Tirtonadi di Kali Pepe hulu. Dia menyebut, jika diatur lebih lanjut, pasokan air di Kali Pepe hilir bisa saja cukup untuk keperluan kegiatan wisata sungai seperti perahu air.

Namun, Doel, sapaan akrab Abdullah menilai, penyediaan pintu atau bangunan pengatur debit air di beberapa ruas Kali Pepe hilir tersebut akan percuma jika kondisi air Kali Pepe masih tercemar.

“Direncanakan walaupun musim kemarau, nantinya tetap ada air yang disuplai ke Kali Pepe hilir. Kami usulkan akan ada continuous flow untuk maintenance Kali Pepe hilir minimal 0,2 meter kubik/detik. Menurut saya yang menjadi PR dari pengembangan wisata sungai di Solo sekarang yakni tinggal menyelesaikan permasalahan limbah yang masih banyak dibuang khususnya ke Keli Pepe hilir,” kata Doel.

Doel mengungkapkan sementara kondisi air di Bendung Tirtonadi aman-aman saja untuk kegiatan wisata air. Dengan adanya instalasi Bendung Tirtonadi baru tersebut, debit air yang mengalir di Kali Pepe hulu bisa diatur.

Dia mengatakan, yang menjadi persoalan sekarang malah pengelolaan air ketika memasuki musim penghujan. Pasalnya, BBWSBS belum pernah menjajal pengoperasian bendung Tirtonadi saat musim hujan atau debit air Kali Pepe hulu sedang tinggi.

Pembangunan instalasi Bendung Tirtonadi yang dikerjakan dalam proyek Penanganan Banjir Kota Solo Pekat 3 (Kali Pepe hulu) tersebut diketahui baru selesai belum lama ini.

“Hulu bendung sementara amannya saat musim kemarau. Kalau musim penghujan, kami perlu belajar dulu dengan kebiasaan banjirnya. Kami nanti yang jelas akan tambahkan early warning system di hulu. Cuma masalah wisata air di musim hujan, perlu kebijakan susulan karena kami belum terbiasa tertib menghadapi situasi itu,” terang Doel.

Doel menuturkan proyek Pengananan Banjir Kota Solo Paket 3 kini telah mencapai 91,58% selesai. Di proyek tersebut, BBWSBS tinggal mengerjakan pembangunan jembatan kaca dan penataan bantaran Kali Pepe hulu.

Sementara itu proyek Penanganan Banjir Kota Solo paket 1 (Kali Pepep hilir) hingga pekan ketiga Agustus dikatakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Penanganan Banjir Kota Solo BBWSBS, Arlendenovega Satria N., telah mencapai 90% selesai.

Sedangkan perkembangan proyek Penanganan Banjir Kota Solo paket 2 (Sungai Bengawan Solo) sudah mencapai 97% selesai. Di proyek itu, BBWSBS tinggal melakukan penguaan tebing  Kali Wingko di wilayah Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon.