Menegangkan, Simulasi Evakuasi Bencana Merapi Seperti Nyata

Warga di Kecamatan Musuk, Boyolali berhamburan mencari pertolongan di lapangan Desa Sruni sesaat setelah letusan Gunung Merapi dalam geladi lapang kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana, Rabu (5/9 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
05 September 2018 21:50 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Simulasi evakuasi dalam geladi lapang di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali berlangsung seru dan menegangkan. Dalam "drama" itu digambarkan saat pukul 06.11 WIB akun Twitter @BPPTKG mengunggah hasil pengamatan visual Gunung Merapi dari pos pengamatan Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali. Rabu (5/9/2018) pagi itu, Gunung Merapi berkabut, suhu udara 15.3 °C, angin tenang dan cuaca terang.

Akun resmi milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) itu tidak menyebutkan adanya aktivitas gunung yang sebagian wilayahnya berada di Boyolali itu. Beberapa jam kemudian, BPPTKG menyatakan bahwa Gunung Merapi “meletus”. Informasi ini segera disampaikan kepada Pemkab Boyolali dan warga lereng gunung harus segera dievakuasi.

Melalui radio di pusat komunikasi, pukul 10.15 WIB Pemkab Boyolali menginstruksikan kepada sukarelawan dan personel tim siaga desa (TSD) di Desa Sruni, Sangup, Cluntang, Lanjaran, dan Mriyan yang merupakan desa di Kecamatan Musuk di kawasan rawan bencana (KRB) II segera memobilisasi warganya turun gunung.

Di lapangan Desa Sruni, suasana chaos tidak terelakkan. Warga berlarian menuju lokasi yang dinilai aman dari dampak letusan gunung tersebut. Warga yang panik berhamburan menyelamatkan diri. Sedangkan sebagian lainnya mencari saudara mereka yang terpisah. Sementara itu, mobil dan kendaraan roda dua milik warga dan pemerintah lalu lalang di sepanjang jalur evakuasi Sangup-Sruni. Mereka hilir mudik membawa warga yang akan diselamatkan.

Simulasi tersebut semakin terasa nyata saat dua mobil pemadam kebakaran (PMK) Boyolali menyemprotkan air untuk menggambarkan hujan abu. Selain itu, suara sirine dari mobil ambulans bersahutan menambah feel kegiatan yang melibatkan 400 personel dari berbagai unsur tersebut.

Meski situasi tersebut hanya simulasi pada klaster pengungsi, namun semua personel yang terlibat dalam geladi lapang kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana letusan Gunung Merapi melakukan peragaan dengan seksama dan sesuai porsi masing-masing. Selain peragaan pada klaster pengungsi, geladi lapang itu juga memeragakan klaster dapur umum, klaster komunikasi, dan klaster medis. Di sisi lain, geladi lapang di Boyolali ini waktunya dinilai sangat tepat karena bertepatan dengan peningkatan aktivitas gunung tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

“Kegiatan ini kami sebut juga dengan mitigasi. Ini tepat sekali waktunya karena ada aktivitas Gunung Merapi, mulai dari erupsi freatik hingga timbulnya kubah baru lava di puncaknya. Semua ini membuat kita harus waspada dan kegiatan ini meningkatkan kesiapsiagaan semua pihak dalam penanggulangan bencana,” ujar Kepala BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana yang hadir pada acara tersebut.

Didampingi Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) BOBD Boyolali Bambang Sinungharjo, Sarwa menambahkan, salah satu tantangan dalam penanggulangan bencana adalah komunikasi. “Komunikasi ini tidak gampang karena penanggulangan bencana semuanya tergantung komunikasinya,” kata dia.