BPBD Klaten Gelar Simulasi Antisipasi Merapi

TRC BPBD Klaten melakukan simulasi evakuasi penyandang disabilitas saat digelar simulasi internal di kantor BPBD Klaten, Selasa (4/9/2018) malam.(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
05 September 2018 19:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten menggelar simulasi bencana erupsi Gunung Merapi, Selasa (4/9/2018) malam. Simulasi internal BPBD itu dimaksudkan agar para pegawai serta sukarelawan tak bingung ketika sewaktu-waktu terjadi erupsi.

Simulasi digelar di kantor BPBD Klaten mulai pukul 20.00 WIB. Simulasi diantaranya mempraktikkan proses evakuasi, penetapan status siaga bencana, distribusi logistik, serta penanganan korban luka.

Dalam simulasi itu, Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto, memerankan Bupati Klaten, Sekretaris BPBD Klaten, Dodhy Hermanu, sebagai Kepala BPBD Klaten, serta Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Klaten, Ahmad Wahyudi, memerankan Kepala BPBD Jawa Tengah. “Ini simulasi internal kedua. Sebelumnya digelar saat siang, kini kami lakukan saat malam,” kata Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto, saat ditemui sebelum simulasi.

Simulasi melibatkan seluruh personel BPBD Klaten yakni 32 ASN, 20 tenaga harian lepas, 10 personel tim reaksi cepat (TRC) BPBD Klaten, serta delapan orang dari Unit Layanan Disabilitas (ULD). “Tujuan kami melakukan simulasi ini agar orang yang bertugas di BPBD itu tahu perannya masing-masing dan tidak bingung serta tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika erupsi terjadi. Karena yang namanya bencana itu bisa datang sewaktu-waktu,” katanya.

Bambang menjelaskan sejak status Gunung Merapi meningkat dari normal ke level waspada para pegawai di BPBD Klaten ikut piket bersama TRC BPBD. Piket dilakukan selama 24 jam. Saban piket, ada empat personel TRC ditambah empat pegawai BPBD Klaten. Sementara itu, dalam simulasi tersebut juga dipraktikkan cara mengevakuasi para difabel. Simulasi itu melibatkan penyandang tunadaksa, tunarungu, serta tunanetra.

Ketua ULD BPBD Klaten, Setyo Widodo, mengatakan cara evakuasi para difabel berbeda jika dibandingkan dengan orang dalam kondisi normal. Ia mencontohkan seperti mengevakuasi penyandang tunarungu dilakukan melalui isyarat tangan dengan melakukan kontak mata kepada difabel tersebut.
Pria yang akrab disapa Dodo itu menuturkan di ULD BPBD Klaten ada 34 sukarelawan difabel. Selama ini, mereka piket di BPBD dengan setiap piket ada lima orang.

Dodo menjelaskan ada difabel yang tinggal di tiga desa terdekat puncak Merapi di Kecamatan Kemalang yakni Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo. “Yang ada di tiga desa itu sekitar 150 difabel,” tutur Dodo.