Festival Ketoprak Libatkan Ribuan Pelajar Klaten

Ilustrasi seni pertunjukan ketoprak dipentaskan di TMII Jakarta. (Tamanmini.com)
05 September 2018 20:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Festival ketoprak pelajar (FKP) kembali digelar pada 2018. Durasi festival yang diikuti pelajar sekolah tingkat SD, SMP/MTs, serta SMA/SMK tersebut digelar dengan durasi lebih lama lantaran banyaknya peserta.

FKP melibatkan 2.030 pelajar dari 58 sekolah. Selain Klaten, sekolah peserta berasal dari Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, serta Boyolali. Digelar selama 10 hari mulai Jumat (7/9/2018) hingga Minggu (7/10/2018), FKP tahun ini lebih lama dibanding tahun sebelumnya yang digelar sekitar sepekan. Lokasi pentas berada di SD Krista Gracia (SD 3 Kristen Klaten), Jl. Seruni, Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah.

FKP diselenggarakan Amigo Group melalui program coorporate social responsibility (CSR) menggandeng Omah Wayang, salah satu unit kegiatan seni Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dewi Fortuna. Penyelenggaraan juga mendapat bantuan dana dari APBD melalui Kecamatan Klaten Tengah untuk FKP tingkat SMP. Festival kali ini memasuki tahun ke sembilan dari penyelenggaraan sejak 2010.

Pemilik Amigo Group, Edy Sulistyanto, mengatakan FKP memperebutkan piala gubernur untuk tingkat SMA/SMK. Sementara, tingkat SD dan SMP memperebutkan piala bupati. FKP digelar sebagai stimulan bagi sekolah dalam hal pelestarian budaya Jawa melalui ketoprak.

Pelestarian budaya itu bagian tak terpisahkan dari penguatan pendidikan karakter. Mereka yang ikut harapannya terbangun karakter mereka,” jelas Edy saat menggelar jumpa pers di SD Krista Gracia, Rabu (5/9/2018).

Edy menjelaskan FKP tak sekadar menjadi rutinitas pergelaran ketoprak yang digelar saban tahun. Pria yang juga pendiri festival itu mengatakan salah satu impian dari kegiatan itu sebagai tempat untuk mengajarkan kemajemukan.

Melalui FKP ini bagaimana bisa mencakup siswa dari berbagai sekolah dengan beragam latar belakang hingga berinteraksi dalam satu pentas ketoprak. Yang masih menjadi pekerjaan rumah kami itu bagaimana membangun interaksi siswa antar sekolah ini,” ungkapnya.

Salah satu pengurus Omah Wayang, Kristian Apriyanta, mengatakan sebelum FKP, panitia menggelar workshop ke berbagai sekolah. Workshop itu dimaksudkan untuk melatih sekolah untuk menyajikan pentas ketoprak seperti tata panggung, tema, penulisan naskah, hingga karawitan pengiring. “Harapannya dari workshop, mereka sudah bisa mandiri menyiapkan penyajian,” jelas dia.

Selama ini, sekolah-sekolah peserta FKP kerap mendapat pendampingan dari Omah Wayang guna persiapan sebelum pentas. Hanya, belakangan sejumlah sekolah mulai mandiri menyajikan ketoprak sesuai kreasi mereka. Lantaran hal itu, selain penyajian ada sejumlah kriteria pemenang lomba salah satunya penata iringan terbaik.

Tokopedia