Beras Organik dan Pariwisata Jadi Ikon Desa Sukorejo Sragen

Kantor Kepala Desa Sukorejo, Kecamatan Sambirejo, Sragen. (Solopos/Tri Rahayu)
06 September 2018 21:05 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sukorejo merupakan salah satu desa yang dikembangkan Pemkab Sragen sebagai desa organik. Selain Sukorejo ada dua desa lainnya yang menjadi kawasan desa penghasil padi organik, yakni Desa Jambayen dan Jetis.

Ketiga kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Bestisrejo (Jambeyan, Jetis, dan Sukorejo). Desa Sukorejo terletak di tenggara Kabupaten Sragen yang berbatasan dengan wilayah Jawa Timur dan Karanganyar.

Secara geografis, Sukorejo berbatasan dengan Desa Lempong Kecamatan Jenawi, Karanganyar, di sisi selatan; Desa Musuk Sambirejo, Sragen, di sisi barat; Desa Sine Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur di sebelah timur; dan Desa Jambayen Sambirejo, Sragen, di sebalah utara. Jarak Sukorejo ke pusat Kabupaten Sragen mencapai 25 km.

Kepala Desa Sukorejo, Sukrisna, saat berbincang dengan solopos.com, Selasa (4/9/2018), menyampaikan jumlah penduduk di Sukorejo mencapai 3.600 jiwa yang menyebar di 15 rukun tetangga (RT) dan tiga kebayanan, yakni Kebayanan Pondok, Sukorejo, dan Cengklik. Wilayah Sukorejo itu juga terbagi menjadi 22 dukuh karena satu RT di Sukorejo bisa berasal dari dua dukuh.

“Ya, desa ini merupakan desa penghasil beras organik. Areal sawahnya tersertifikasi sebagai sawah organik. Luasnya mencapai 141,32 hektare. Untuk mendukung pengembangan padi organik, kami sudah mengembangkan peternakan komunal. Banyak kelompok tani yang memiliki peternakan komunal,” ujarnya.

Peternakan sapi secara komunal itu sudah dikelola sedemikian rupa sehingga sampai menghasilkan energi terbarukan berupa biogas. Beberapa warga menggunakan penerangan dan kompor memasak dengan memanfaatkan biogas.

“Belakangan kami menemukan model pengembangan baru, yakni budidaya cacing. Jadi endapan kotoran sapi dalam instalasi pengolahan air limbah (IPAL) itu diambil dan dicampur dengan serbuh gergaji menjadi makanan cacing. Kemudian kotoran cacing itulah yang menjadi pupuk organik yang amat subur,” ujarnya.

Pupuk organik sudah diproduksi dalam jumlah besar dan dipasarkan dengan harga Rp2.000 per kg. Dia menyampaikan para peternak sapi bisa menjual limbah ternaknya dua kali, yakni endapan pada IPAL dan hasil budidaya cacing. Setelah pengembangan padi organik, Sukrisna mulai menggarap konsep desa wisata dengan mengoptimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

“Kami mulai merencanakan pengembangan pariwisata di desa ini karena potensi yang kami miliki banyak dan wilayahnya berbatasan dengan Jenawi yang terletak di kaki Gunung Lawu, seperti bukit herbal, beberapa bukit didesain sebagai menara pandang dan tempat berswafoto dan seterusnya. Bahkan konsep pengembangan pariwisata desa kami masuk dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPDA) Sragen yang kini akan diajukan menjadi perda ke DPRD Sragen,” tambahnya.