Siswa SMPN 2 Delanggu Klaten Dapat Seragam Gratis dari Iuran Guru

Siswa mengikuti pelajaran di SMPN 2 Delanggu, Klaten, Kamis (6/9 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
06 September 2018 20:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Siswa-siswi berseragam putih-biru berhamburan keluar kelas saat bel istirahat berbunyi. Mereka berjalan ke toilet, kantin, atau sekadar mencari tempat duduk, mengobrol bersama kawan-kawan.

Sebagian dari mereka mengenakan seragam khusus motif kotak-kotak warna biru muda. Khusus kelas VII mengenakan seragam OSIS putih-biru karena seragam khusus belum jadi. 

Seragam OSIS yang dipakai siswa itu diberi oleh sekolah secara cuma-cuma. Setiap siswa yang diterima mendapatkan satu set seragam terdiri atas satu setel seragam OSIS, satu setel seragam Pramuka, dan satu setel seragam olahraga. 

Semua siswa baik kaya maupun miskin menerima bahan yang sama. “Seragamnya gratis. Sumber dananya hasil iuran sukarela para guru [penerima  tunjangan [profesi] sertifikasi di sekolah ini. Setiap penerimaan tunjangan sertifikasi, guru-guru menyisihkan 2,5 persen untuk pengembangan pendidikan di sini. Di sini ada 25 guru tersertifikasi,” kata Wakasek bidang sarana prasarana dan kesiswaan SMPN 2 Delanggu, Sri Purwanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Kamis (6/9/2018).

Pemberian seragam gratis itu kali pertama dilakukan tahun lalu. Ada 148 siswa mendapatkan masing-masing satu setel seragam OSIS dan satu setel seragam Pramuka. 

Tahun ini, ada 114 siswa yang menerima seragam sekolah yang sama ditambah dengan seragam olahraga. “Untuk tiga stel seragam itu kami habis Rp19 juta. Ke depan, kami berharap bisa dikembangkan hal lain termasuk pengembangan sarpras khususnya untuk UNBK. Pada intinya, dana dikembalikan kepada siswa untuk kemajuan pendidikan bangsa,” imbuh pria yang juga menjabat Ketua Paguyuban Guru Sertifikasi di sekolah setempat.

Pemberian seragam sekolah gratis awalnya untuk menggaet minat siswa bersekolah di sana. Sekolah itu selalu menjadi jujugan terakhir saat pendaftar tak diterima di sekolah-sekolah negeri lainnya di Kecamatan Delanggu. 

Tak hanya itu, siswa yang belajar di sekolah itu rata-rata dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. “Sekolah ini menjadi pilihan keempat. Tapi alhamdulillah, peringkat sekolah dari tahun ke tahun terus naik dari peringkat 63 ke 58 dan sekarang 56 dari 65 SMP negeri di Klaten,” beber Kepala SMPB 2 Delanggu, Kusmiyanto.

Ia menyatakan sekolah tak pernah meminta pungutan apa pun kepada wali murid. Setiap ada program, sekolah biasanya menerima bantuan dari para alumni. 

Setiap tahun, sekolah menggelar temu alumni saat peringatan dies natalis. “Sekolah di sini bisa dibilang gratis tis,” imbuh Kusmiyanto.

Manfaat seragam cuma-cuma dirasakan Suyatno, 49, warga Desa Kapungan, Polanharjo. Tahun ini ia menyekolahkan putranya di SMPN 2 Delanggu. 

Ia merasa sangat senang tak perlu membeli seragam untuk anaknya. “Sebagai orang tua saya senang. Di sekolah lain biasanya ada biaya untuk seragam. Jadi dananya bisa dipakai untuk yang lain,” kata dia yang juga menyekolahkan satu putranya di SMA dan satu lagi di bangku SD.

Ia memilih SMPN 2 Delanggu untuk sekolah anaknya karena sekolah itu dikenal punya disiplin tinggi. Para guru yang mengajar pun terbilang senior-senior. “Yang jelas lingkungannya juga bersih dan nyaman,” sambung Suyatno.