Kakek Wonogiri Selamat Setelah Tusuk Perutnya Pakai Pisau

Atmo terbaring di tempat tidur perawatan di IGD RSUD Wonogiri setelah menusuk perutnya sendiri, Kamis (6/9 - 2018). (Istimewa/Humas Polres Wonogiri)
06 September 2018 17:58 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Seorang kakek dengan sembilan cucu warga Dusun Tukluk RT 004/RW 015, Desa Kerjo Lor, Ngadirojo, Wonogiri, Atmo Rejo, 83, berusaha mengakhiri hidupnya dengan menusuk perutnya pakai pisau, Kamis (6/9/2018).

Upaya bunuh diri itu tak berhasil karena meski seluruh besi pisau yang panjangnya sekitar 10 sentimeter (cm) masuk semua ke dalam perutnya, Atmo tetap sadar. Pisau itu akhirnya bisa dikeluarkan dari perut Atmo lewat jalan operasi di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso dan Atmo berhasil diselamatkan.

Tak diketahui apa motif Atmo mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu. Keluarganya pun tak bisa menduganya karena selama ini hubungan Atmo dengan anggota keluarga lainnya baik-baik saja.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Kamis pagi itu selepas bangun tidur Tarmi berwudu di kamar mandi. Perempuan 53 tahun itu kemudian menunaikan Salat Subuh.

Tarmi Salat Subuh di kamarnya pukul 04.30 WIB. Atmo Rejo, yang merupakan bapak Tarmi, juga sudah bangun tidur kala itu. Setelah bangun, Atmo berwudu lalu menunaikan Salat Subuh di kamarnya dalam posisi tidur.

Kakek sembilan cucu tersebut tak sanggup lagi salat dengan posisi berdiri karena kekuatannya telah digerogoti usia. Tak lama setelah melepas mukena, Tarmi mendengar bapaknya, Atmo Rejo, 83, memanggil namanya seraya mengerang kesakitan.

Sontak Tarmi menuju sumber suara di ruang tengah rumah. Tarmi pun kaget setengah mati mendapati bapaknya tergeletak di lantai dekat pintu dengan pisau tertancap di perutnya.

Sugino, 53, suami Tarmi, ikut terbangun mendengar panggilan Atmo. Dia langsung mengecek apa yang terjadi. Setelah mengetahui kejadian itu Sugino meminta pertolongan warga sekitar.

Warga pun tak berani berbuat banyak, terlebih untuk mencabut pisau yang tertancap di perut Atmo. Kemudian ada warga yang melapor ke polisi.

Setelah polisi tiba, petugas bersama Tarmi dan warga membawa Atmo ke RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso. “Bapak teriak-teriak memanggil istri saya waktu itu. 'Mi... Mi... Iki aku geneo [Ini aku kenapa] Mi?' Waktu itu Bapak sudah tergelak di lantai ruang tengah dekat pintu. Saya bingung harus bagaimana, soalnya di perut Bapak tertancap pisau. Meski begitu Bapak masih sadar, tapi badannya lemas. Peristiwa itu setelah Bapak Salat Subuh,” kata Sugino saat ditemui wartawan di rumahnya.

Menurut Sugino, seluruh besi pisau tertancap di perut Atmo bagian tengah bawah ulu hati di atas pusar. Panjang besi pisau sama dengan jari telunjuk orang dewasa atau sekitar 10 cm.

Pisau tersebut sudah lama tak dipakai dan ditaruh di dapur. Sugino menduga mertuanya pagi itu mencoba bunuh diri dengan cara menusukkan pisau ke perut.

Gantung Diri

Kemungkinan Atmo mengambil pisau di dapur saat menuju kamarnya selepas berwudu. Hal itu memungkinkan karena dapur dan kamar mandi berdekatan.

“Dua tahun lalu Bapak pernah satu kali gantung diri di pohon mangga depan rumah. Untungnya tetangga ada yang tahu dan langsung memotong tali tambang yang menjerat leher Bapak. Jadi Bapak masih bisa tertolong,” imbuh Sugino.

Dalam percobaan bunuh diri pertama dan kedua, keluarga tak mengetahui motif Atmo melakukannya. Lelaki yang pernah lima kali menikah dan semua istrinya sudah meninggal dunia itu tak mau menceritakan masalah apa yang sedang dipikirkannya.

Di sisi lain, Atmo selalu sehat meski sudah renta. Kadang dia keluar rumah untuk membeli mi ayam di warung dekat rumah. Komunikasi antara Atmo dengan anak-anaknya juga terbangun dengan baik.

“Kami juga gemati [perhatian] terhadap Bapak. Kadang memang Bapak maunya memberi makan sapi di belakang rumah. Istri saya meminta agar Bapak tak melakukannya karena khawatir terjatuh. Apa mungkin Bapak tersinggung atau bagaimana saya kurang tahu,” ucap Sugino.