PKL Sunday Market Manahan Solo Ancam akan Terus Demo

Demo PKL Manahan Solo menuju Balai Kota, Jumat (7/9 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
07 September 2018 12:40 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pedagang kaki lima (PKL) Sunday Market Manahan Solo menyatakan akan terus berdemo jika tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Tuntutan tersebut yakni Pemkot tidak membubarkan pasar tiban mingguan tersebut untuk selamanya per 9 September 2018. Demo pertama dilakukan para pedagang di Bundaran Gladak hingga Balai Kota Solo, Jumat (7/9/2018).

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Jumat, aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB di Bundaran Gladak. Mereka datang dengan membawa berbagai poster di antaranya bertuliskan “Tolak Penutupan Sunday Market Manahan”, “Sunday Market Bukan Musuh Pemkot”, “Ribuan Nyawa Tlah Dikorbankan”.

Aksi ini membuat arus lalu lintas di Jl. Slamet Riyadi sempat tersendat. Setelah orasi di Gladak, massa kemudian long march menuju Balai Kota.

Selama perjalanan massa meneriakkan yel-yel. Selain itu mereka juga terus berorasi menolak penutupan Sunday Market Manahan.

Pedagang siap jika harus ditata tapi tidak dibubarkan. Menurutnya kebijakan Pemkot membubarkan Sunday Market Manahan sangat merugikan pedagang yang sudah beraktivitas di sana selama belasan tahun.

Koordinator aksi yang sekaligus Ketua Serikat Pedagang Minggu Pagi Manahan (SPMPM), Joko Santoso atau yang lebih dikenal Yuli De Santos, mengatakan aksi para pedagang sebagai bentuk respons terhadap kebijakan Pemkot menutup Sunday Market selamanya.

“Pada prinsipnya, kami tetap pada pendirian yakni menolak penutupan Sunday Market. Kami tetap ingin eksis dan beroperasi di Sunday Market Manahan,” katanya.

Rencana penutupan Sunday Market Manahan telah membuat resah ribuan pedagang yang selama ini mengadu nasib di pasar tiban setiap Minggu pagi tersebut. Bayang-bayang kehilangan mata pencaharian kini ada di depan mata para pedagang.

Pedagang pun meminta Wali Kota untuk mengkaji ulang penutupan operasional Sunday Market selamanya. “Dampaknya akan sangat jelas bagi kami. Ada 1.500 pedagang yang menggantungkan nasib di sana. Tidak hanya pedagang tapi juga keluarga yang kalau ditotal ada 4.500 jiwa,” katanya.

Pedagang tidak mempermasalahkan jika penutupan Sunday Market bersifat sementara. Pedagang pun bersedia ditata asalkan tetap berada di Manahan.

Tiga lokasi alternatif yang disediakan Pemkot meliputi area parkir New Gladak Langen Bogan (Galabo), city walk Car Free Day (CFD) Jl. Slamet Riyadi, dan CFD Jl. Ir. Juanda dinilai tidak realistis. Di lihat dari jam operasional saja pedagang selama berjualan di Sunday Market beroperasi dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB.

Sedangkan jam operasional CFD terbatas, yakni berakhir pukul 09.00 WIB. Apalagi di CFD Jl. Ir. Juanda jam operasional pedagang terbatas dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB.

“Padahal kami telah memberikan dampak cukup besar terhadap pendapatan asli daerah [PAD] dan sudah menjadi ikon bagi Kota Solo,” katanya.

Terkait pendaftaran penempatan pedagang di tiga lokasi yang disediakan Pemkot, dia menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing pedagang. Pengurus juga tidak akan memaksa pedagang.

Yang jelas dia tetap akan meliburkan diri alias tidak beroperasi di Manahan sesuai instruksi Pemkot. “Kami akan tetap seperti ini, demo dan melakukan audiensi. Audiensi dilakukan sampai bertemu dengan Wali Kota karena kebijakan di tangan wali kota,” katanya.

Sementara itu, seusai menggelar aksi di depan plaza Balai Kota, para pedagang membubarkan diri.