Rata-Rata Mahasiswa Skor TOEIC-nya di Bawah 400, Kemampuan Bahasa Inggris Harus Diperbaiki

Ketua Aptisi Komisariat 2 Surakarta Ali Mursyid (kanan), Rektor Unsa Setiono (tengah) dalam acara workshop untuk dosen bahasa Inggris di Unsa, Jumat (7/9 - 2018) (Istimewa)
07 September 2018 15:19 WIB Ayu Prawitasari Solo Share :

Solopos.com, KARANGANYAR — Kemampuan bahasa Inggris mahasiswa harus diperbaiki. Salah satu indikator rendahnya kemampuan bahasa Inggris mahasiswa adalah skor TOEIC (Test of English for International Communication) rata-rata di bawah 400 sementara nilai maksimal 990.

Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Surakarta Universitas Surakarta (Unsa) Astrid Widayani saat dijumpai Solopos.com seusai workshop untuk dosen bahasa Inggris PTS se-Soloraya bertajuk Peran Universitas untuk Membentuk Generasi Global di kampus setempat, Jumat (7/9/2018).

Dalam rangka meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa tersebut, PTS yang tergabung dalam Aptisi Komisariat 2 Surakarta menjalin kerja sama dengan International Test Center (ITC ).

“Jadi memang acara hari ini [Jumat] dalam rangka implementasi kerja sama atau MoU antara PTS yang tergabung dalam Aptisi Komisariat 2 dengan ITC sebagai lembaga yang sertifikatnya diakui secara internasional. Ada 14 PTS yang bekerja sama,” jelas Astrid yang juga Sekretaris Aptisi 2 sekaligus ketua panitia acara. Ke-14 PTS itu di antaranya, Universitas Setia Budi, Universitas Islam Batik Surakarta, STIE AUB, dan lainnya.

Menurut Astrid, nantinya lulusan Unsa dibeli surat keterangan pendamping ijazah (SKPI) sebagai bekal bekerja. SKPI bisa berupa hasil tes bahasa Inggris atau komputer.

“Tes yang banyak dipakai untuk kepentingan bekerja di perusahaan multinasional maupun internasional itu sekarang TOEIC. Memang tes bahasa Inggris juga bisa dipakai untuk studi lanjut ke luar negeri, tapi itu biasanya yang TOEFL [Test of English as a Foreign Language]. Jadi untuk kepentingan bekerja menggunakan TOEIC,” jelas dia.

Astrid menilai kemampuan bahasa Inggris mahasiswa secara umum di berbagai PTS saat ini masih minim. Hasil tes TOEIC mahasiswa rata-rata masih di bawah 400 sementara nilai maksimal 900. Nilai aman untuk TOEIC adalah 700.

Workshop ini ditujukan dosen-dosen bahasa Inggris dalam rangka mempersiapkan diri menyelenggarakan tes di kampus masing-masing. Tesnya tentu saja bekerja sama dengan ITC. Dalam rangka itu, nah dosennya dulu yang sekarang dipersiapkan untuk kemudian meneruskannya kepada para mahasiswa. Inilah yang kami maksud dengan peran universitas membentuk generasi global,” jelas dia.

Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Unsa, Yunita Widiyantari. Menurutnya, dulu tes TOEIC yang diakui secara internasional hanya diselenggarakan perguruan tinggi negeri (PTN). Bekerja sama dengan ITC, kini PTS juga bisa menyelenggarakan secara mandiri.

“Kalau tesnya di lembaga biasa itu kan hasilnya belum tentu diakui. PTN dulu kan juga bekerja sama dengan ITC, nah sekarang PTS bisa juga,” jelas dia.