Harga Kedelai Terus Naik, Pengrajin Tahu di Solo Pilih Kurangi Laba

Pedagang kedelai impor dari Amerika, Yanik, menunggu pembeli di pusat pergudangan Pasar legi, Solo, Kamis (6/9 - 2018). (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
07 September 2018 17:31 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Sejumlah produsen bahan makanan yang berbahan baku kedelai mulai merasakan dampak dari terus meningkatnya harga bahan baku kedelai.Kenaikan harga kedelai yang didatangkan dari luar negeri, diprediksi terjadi karena naiknya nilai tukar dolar .

Salah satu produsen tahu di Solo, Dwiyono, mengatakan saat ini dirinya belum berani meningkatkan harga jual tahu produksinya. Sebab dikhawatirkan hal itu akan mengganggu kegiatan pemasaran.

"Kalau dinaikkan, kalau tidak laku bagaimana? Jadi sementara ini ya menurunkan laba dulu," kata dia saat ditemui wartawan di rumah produksi tahunya, Jebres, Solo, Jumat (7/9/2018).

Dia mengatakan setiap harinya dia butuh antara satu hingga dua kuintal kedelai. Jumlah tersebut bisa untuk membuat minimal 30 kali masakan kedelai. Setiap kali masakan bisa untuk membuat lima papan tahu. Setiap kotak dijual dengan harga Rp20.000. Dia berharap harga kedelai bisa kembali turun agar ada keuntungan lebih yang didapat.

"Untuk saat ini kalau untuk produksi tahu selalu rugi. Setidaknya ke harga Rp7.400/kg lagi, itu sudah bisa mendapatkan sedikit untung," kata dia. Menurut Dwiyono, harga kedelai saat ini terus meningkat. Peningkatan tersebut bisa mencapai Rp100-Rp200/kg.

Dwiyono mengaku untuk menutup kerugian yang dialami adalah dengan menjual produk sampingan dari tahu, yaitu tempe gembus. "Untuk gembus ini adakah ampas dari tahu, jadi produksinya selalu mengikuti," terang dia.

Hal yang sama juga disampaikan produsen tempe, Trisni, yang berlokasi tak jauh dari rumah Dwiyono. Dia juga mengatakan meski harga kedelai terus meningkat, harga jual tempenya tetap stabil. "Saya jual masih Rp2.000 setiap 10 biji. Harga kedelai memang naik terus sedikit-sedikit," kata dia.

Tokopedia