Karamba Bukan Penyebab Utama Waduk Cengklik Dangkal, Ini Pendapat Petani

Kondisi Waduk Cengklik beberapa waktu lalu (Dokumen Solopos)
07 September 2018 14:53 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Karamba tidak menjadi penyebab utama mendangkalnya debit air di Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali. Pendangkalan itu juga disebabkan oleh banyaknya tanaman eceng gondok dan lumpur yang mengendap di musim penghujan.

Saat hujan turun, lumpur yang berasal dari permukiman warga banyak yang mengalir hingga ke waduk. Ditambah tanaman eceng gondok yang banyak tumbuh secara liar. Setelah dimanfaatkan warga sebagai pakan, tanaman tersisa akan mengendap menjadi lumpur di dasar waduk. Sementara karamba hanya menyumbang sebagian kecil dari proses pendangkalan.

Salah satu petani nelayan karamba di Desa Sobokerto, Jamal, 51, mengatakan karamba di Waduk Cengklik memanfaatkan pakan apung. Sehingga pakan sebagian besar terserap ke bibit ikan. Rata-rata dari 30 kilogram (kg) pakan, sekitar 20kg -22 kg akan terserap. Praktis tinggal 8 kg-10 kg yang terbuang dan menyebabkan sedimentasi.

Berkurang

Petani nelayan karamba lain, Totok, 50, juga mengatakan sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan pendangkalan di Waduk Cengklik. “Karamba itu bukan satu-satunya,” kata dia. Petani nelayan di Waduk Cengklik membudidayakan nila dan lele. Jamal mengakui dalam lima tahun terakhir, jumlah petani sudah banyak berkurang, dan jika ditotal kini kurang dari 1% dari luas wilayah waduk.

Jamal dulunya bergabung dalam kelompok Tani Mandiri, dari yang beranggotakan puluhan orang kini tinggal tiga orang. “Total petani karamba kini cuma tinggal 20-an orang dari sebelumnya 60-an orang," kata dia ketika berbincang dengan reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni Kamis (6/9/2018) siang.

Petani nelayan karamba kini banyak beralih pekerjaan. Sebagian besar dari mereka menjadi buruh serabutan. Penyebabnya bermacam-macam, namun sebagian besar bangkrut karena faktor cuaca dan harga. Waduk Cengklik menempati wilayah tiga desa. Desa Sobokerto dan Ngargorejo berada di wilayah Kecamatan Ngemplak, Sementara Desa Senting berada di wilayah Kecaamatan Sambi. Kini Petani Karamba sudah tidak ada di wilayah Senting. Totok yang merupakan warga Senting tahun ini memutuskan berhenti menjadi petani dan beralih membuka warung di lingkungan waduk.

Berkurangnya jumlah petani ini disebabkan oleh menurunnya hasil ikan dalam dua tahun terakhir. Kini sepetak karamba berukuran 6 meter x 6 meter hanya mampu menghasilkan ikan maksimal 2,5 kuintal. Padahal dulu bisa mencapai 6-8 kuintal. Penghasilan kotor pun sekitar Rp1,5 juta/ panen. Meski tak diketahui secara pasti, Jamal mengatakan penurunan penghasilan ini seiring dengan semakin dangkalnya waduk. Padahal ikan seharusnya dapat berkembang biak di semua debit air. “Biasanya ikan juga banyak yang mati saat pergantian musim, dari kemarau ke hujan atau sebaliknya,” kata dia.

Pengembangan petani karamba juga masih terganjal dengan harga jual yang fluktuatif. Kini per kilo ikan dihargai sejumlah Rp27.500. Harga paling rendah bisa mencapau Rp23.000. Padahal per sak pakan harganya bisa mencapai Rp13.000. “Alhasil itu karamba sekarang banyak yang mangkrak,” kata Jamal.

Seperti diberitakan sebelumnya, debit air Waduk Cengklik telah mengalami pendangkalan. Kini debitnya tinggal sekitar 9 meter kubik. Padahal air waduk direncanakan akan digunakan untuk mengaliri pertanian sampai desa terjauh di Giriroto. Untuk sampai ke sana debit air minimal harus mencapai 12 meter kubik.