Agrowisata Balerante Klaten Dukung Wisata Alam Merapi

Objek wisata Kali Talang berada dii kawasan Taman Nasional Gunung Merapi di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten. Foto diambil Jumat (31/8/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
07 September 2018 20:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN--Balerante merupakan salah satu desa di Kecamatan Kemalang, Klaten. Desa tersebut berada di wilayah paling barat dan berbatasan dengan Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY. Pada sisi timur, desa tersebut berbatasan dengan Kali Woro yang berhulu di Gunung Merapi.

Jumlah penduduk Desa Balerante sebanyak 2.028 jiwa yang tersebar di 14 dukuh. Menjadi salah satu desa terdekat dengan puncak Gunung Merapi, desa yang memiliki luas 831,123 hektare (ha) menjadi salah daerah rawan erupsi Merapi. Namun, di balik kerawanan tersebut Balerante memiliki panorama alam indah hingga tanah yang subur. Kedua potensi itulah yang direncanakan bakal dikembangkan di Balerante.

Kepala Desa Balerante, Sukono, menjelaskan potensi alam sudah mulai digarap dengan mengembangkan objek wisata Kali Talang. Objek wisata itu berada di kawasan taman nasional Gunung Merapi (TNGM) yang masuk ke wilayah Klaten. Dari gardu pandang yang berdiri di objek wisata itu, para pengunjung menikmati pesona puncak Merapi dari dekat ketika cuaca cerah.

Hanya, kami tidak memiliki kewenangan untuk memaksimalkan objek wisata itu karena berada di TNGM. Artinya, kami tidak bisa mengalokasikan dana dari pemerintah untuk pengembangan objek wisata di sana. Selama ini ya secara swadaya warga,” kata Sukono saat ditemui Solopos.com di Balerante, Jumat (31/8/2018).

Lantaran hal itu, warga desa setempat berencana mengembangkan wisata penyangga yang bisa mendukung Objek Wisata Kali Talang. Belajar dari studi banding yang dilakukan ke Blitar, Jawa Timur, warga desa setempat berencana mengembangkan agrowisata.

Dari studi banding itu, warga Balerante menyaksikan kesuksesan warga Blitar yang sukses membudidayakan cokelat. Cara yang sama juga bakal dikembangkan di Balerante bermodal tanah yang subur. Lahan yang disiapkan untuk pengembangan agrowisata berada di tanah kas desa yang dipersiapkan hingga 3 ha. “Untuk jenisnya masih ada dua pilihan antara cokelat atau kopi. Pilihan itu masih dirapatkan tim yang paling cocok apa,” urai dia.

Sukono menjelaskan wisata menjadi pilihan utama yang akan dikembangkan di Balerante. Selain memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki, dorongan untuk tetap mengembangkan wisata itu muncal dari hasil pendampingan staf ahli Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sejak setahun silam.

Sukono berharap dari pengembangan potensi wisata itu Balerante kian ramai dikunjungi wisatawan. Hasilnya, tingkat perekonomian warga yang selama ini memiliki mata pencahariaan sebagai petani, peternak, serta penambang pasir manual kian terdongkrak.

Kepala Resort dan Pengendalian Ekosistem Hutan TNGM wilayah Kecamatan Kemalang, Arif Sulfiantono, mengatakan pada 2015 TNGM pernah menawari soal usulan penetapan zonasi kawasan taman nasional ke tiga desa wilayah Klaten termasuk Balerante. Hanya, tak ada usulan dari Balerante soal zonasi kawasan TNGM yang berada di wilayah mereka. Alhasil, TNGM menetapkan wilayah taman nasional yang masuk wilayah Balerante ditetapkan sebagai kawasan zona tradisional dan rehabilitasi.

Terkait penggunaan kawasan TNGM untuk wisata, Arif menjelaskan lantaran tak masuk zona wisata bentuk bangunan tak diperkenankan berupa bangunan permanen. “Karena saat ini sudah dikembangkan wisata, insya Allah akan kami akomodasi menjadi zona wisata pada 2019. Kalau masuk zona wisata bahkan kami yang akan membangunkan bangunan permanen dan dikelola masyarakat,” kata Arif.

Tokopedia