Gadis Keturunan Belanda Ramaikan Festival Ketoprak Pelajar di Klaten

Siswa SMAN 2 Klaten tampil dalam pembukaan Festival Ketoprak Pelajar (FKP) 2018 tingkat SMA/SMK hari pertama di SD Krista Gracia Klaten, Jumat (7/9/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
07 September 2018 20:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Lampu panggung dimatikan membuat aula SD Krista Gracia Klaten, Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah gelap, Jumat (7/9/2018) sore. Sesaat kemudian, lampu perlahan menyala terang diiringi tirai panggung yang mulai terkembang. Sorak penonton yang sudah mengerumuni depan panggung hingga memenuhi aula menggema.

Seorang pemain mengenakan kostum burung Wilis menari di kereta dorong seakan ia sedang terbang. Aksi tari itu berakhir diganti dengan dua orang yang memerangkan sosok jin bercengkerama dengan tata panggung dihiasi replika pohon dan batu menggambarkan suasana hutan.

Sore itu, para penonton menyaksikan penampilan ketoprak yang disajikan pelajar SMAN 2 Klaten. Penampilan tersebut menjadi pembuka Festival Ketoprak Pelajar (FKP) 2018 tingkat SMA/SMK. Lakon yang dimainkan kelompok ketoprak SMAN 2 Klaten yakni Bremono Kembar.

Lakon itu mengisahkan pencarian sosok asli suami Nyi Bremani, Bremono, setelah kemunculan jin yang berubah menjadi sosok Bremono. Proses pencarian Nyi Bremani dilakukan dengan meminta mandat dari raja hingga berakhir dengan memasukkan kedua sosok Bremono ke dalam kendi.

Setelah dimasukkan ke dalam kendi, Bremono yang palsu itu berubah menjadi sosok jin warna merah,” kata salah satu pelatih tim ketoprak SMAN 2 Klaten, Niken Sasi, kepada Solopos.com.

Lakon itu dipilih lantaran mudah disajikan para pelajar dengan gaya bahasa Jawa ngoko serta krama yang menjadi bahasa sehari-hari sebagian besar pelajar tersebut. Lakon itu juga memiliki nilai tentang kesetiaan serta tak patah semangat dalam berusaha.

Niken menuturkan waktu yang diperlukan menyiapkan penampilan itu sekitar sebulan melibatkan 80 siswa dari pemain ketoprak, pengrawit, hingga pada bagian properti. Tak terlalu sulit melatih para siswa lantaran sebagian sudah berpengalaman menjadi pemain ketoprak.

SMAN 2 Klaten sudah ikut FKP sejak awal digelar pada 2010. Dampak positifnya itu banyak anak-anak yang senang dan mulai mengerti lakon-lakon ketoprak. Harapannya ketoprak bisa menjadi tontonan dan tuntunan terutama generasi muda karena memiliki nilai-nilai kehidupan selain hiburan,” kata Niken.

Di antara pelajar SMAN 2 Klaten ada salah satu siswi yang keturunan Belanda. Gadis bernama Bonnie Victoria Lemmen, 16, yang sudah delapan tahun tinggal di Klaten itu siswa Kelas X IPA 2. Dalam lakon ketoprak itu, Bonnie tampil memerankan Painem, salah satu pemain dagelan. “Baru kali pertama ini main ketoprak. Awalnya itu hanya diajak kemudian lama-lama suka dengan ketoprak. Ya nanti ditularkan ke teman-teman di Belanda,” kata Bonnie.

FKP tahun ini melibatkan 2.030 pelajar dari 58 sekolah yang berasal dari Klaten, Sukoharjo, Boyolali, serta Karanganyar. FKP terbagi dalam tingkatan SD, SMP, SMA/SMK dengan jumlah total pentas selama 10 hari dalam sebulan. FKP diselenggarakan Amigo Group melalui program corporate social responsibility (CSR) menggandeng Omah Wayang sejak 2010. Penyelenggaraan tahun ini mendapat bantuan dana dari APBD Klaten untuk FKP tingkat SMP.

Kasi Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Budi Santoso, mengatakan kesenian menjadi salah satu media membentuk karakter pelajar. Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengapresiasi pergelaran FKP yang kian tahun bertambah jumlah pesertanya. Ia berharap FKP terus berlanjut dengan menggandeng peserta dari lebih banyak kabupaten.

Tokopedia