Sejak 2016, 52 Orang di Wonogiri Tewas Bunuh Diri

Atmo terbaring di tempat tidur perawatan di IGD RSUD Wonogiri setelah menusuk perutnya sendiri, Kamis (6/9 - 2018). (Istimewa/Humas Polres Wonogiri)
07 September 2018 16:05 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Sebanyak 52 warga Wonogiri bunuh diri selama 2016 hingga Agustus 2018. Mayoritas mereka melakukannya dengan alasan sama, yakni putus asa lantaran menderita sakit menahun.

Data yang dihimpun Solopos.com dari Bagian Operasional (Bagops) Polres Wonogiri, Kamis (6/9/2016), kasus bunuh diri pada 2016 tercatat 15 kasus atau rata-rata terjadi satu hingga dua peristiwa tiap bulan.

Sebanyak 27 kasus terjadi pada 2017 atau meningkat 12 kasus dari tahun sebelumnya. Apabila dirata-rata tiap bulan terjadi dua hingga tiga kasus.

Tahun ini, periode Januari hingga Juli terjadi 10 kasus bunuh diri atau rata-rata terjadi satu hingga dua peristiwa tiap bulan. Sementara pada Agustus nihil kejadian bunuh diri.

Jumlah kasus pada delapan bulan terakhir tersebut jauh lebih banyak dari pada penemuan mayat. Empat orang ditemukan meninggal dunia pada kurun waktu yang sama. Total kasus bunuh diri selama 2016 hingga Agustus 2018 tercatat 52 kasus.

Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Polres Wonogiri, Kompol Jaka Wibawa, mengatakan seluruh pelaku bunuh diri dengan cara gantung diri. Mereka berusia lebih dari 50 tahun.

Mayoritas dari mereka bertindak di luar akal sehat diduga karena putus asa lantaran menderita sakit bertahun-tahun yang tak kunjung sembuh.

Merasa Diabaikan

Pada kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan pelaku merasa diabaikan keluarga. Alhasil, orang bersangkutan merasa tak berguna lagi hidup sehingga mengambil keputusan yang salah.

Ada pelaku yang sebelumnya pernah beberapa kali mencoba bunuh diri, tetapi gagal karena ketahuan keluarga atau tetangga. Namun, pada tindakan terakhir upayanya berhasil.

“Orang yang pernah mencoba bunuh diri tapi gagal cenderung ingin mencoba lagi. Itu menunjukkan keinginannya tak mau hidup lagi besar,” kata Jaka mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, kasus tersebut terjadi di Desa Pandan, Slogohimo, 13 Januari lalu. Lelaki paruh baya warga setempat, Warto, ditemukan meninggal dunia dalam posisi lehernya tergantung tali tambang di dapur rumahnya.

Menurut keluarga dan tetangga, sebelumnya Warto pernah beberapa kali bunuh diri dengan cara yang sama.

Menurut Jaka kasus bunuh diri di Wonogiri tergolong tinggi. Hal itu menjadi persoalan bersama yang perlu segera ditangani. Semua elemen, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, polisi, TNI, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) perlu melaksanakan penyuluhan rohani hingga tingkat rukun tetangga (RT).

Utamanya, memberi pemahaman keagamaan. Tidak menutup kemungkinan warga, terlebih warga lanjut usia (lansia), belum memahami bahwa bunuh diri adalah perbuatan dosa.

Penyuluhan

“Penyuluhan rohani harus dilaksanakan terus menerus. Kepedulian terhadap sesama itu penting. Peran keluarga sangat vital. Kalau ada orang tua yang sakit jangan sampai diabaikan,” ulas Jaka.

Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri, Hidayat Maskur, turut prihatin dengan banyaknya kasus bunuh diri di Kota Sukses.

Dia segera mengambil langkah pencegahan dengan cara membuat teks ceramah/kutbah berkaitan dengan hukum bunuh diri. Teks kutbah akan didistribusikan ke pengurus tempat ibadah untuk selanjutnya disampaikan kepada jemaah.

Pihaknya juga akan menginstruksikan penyuluh agama di semua wilayah untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

Kasus percobaan bunuh diri terakhir terjadi Kamis kemarin.  Atmo Rejo, 83, warga Dusun Tukluk RT 004/RW 015, Desa Kerjo Lor, Ngadirojo, Wonogiri, mencoba bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perutnya sendiri. Dia bisa diselamatkan oleh keluarganya setelah membawanya ke RSUD Wonogiri dan dilakukan operasi pengangkatan pisau yang sampai melukai ususnya. 

Tokopedia